HALO JEMBER – Keberhasilan Como 1907 finis di posisi runner up Serie B Liga Italia dan promosi ke Serie A musim depan. Tidak hanya nama Hartono bersaudara yang merupakan bos Grup Djarum dan BCA sebagai pemilik Como 1907.
Begitu juga Kurniawan Dwi Yulianto sebagai staf pelatih Como 1907 di Como 1907 U-19. Namun, ada nama lain dari Indonesia yang bekerja di Como 1907. Dia adalah Rahadyan Amandita, seorang videographer Como 1907 yang berasal dari Malang, Jawa Timur.
Dikutip jawapos.com, Rahadyan lahir pada 1985 di Malang, Jawa Timur, dengan cinta yang mendalam pada basket daripada sepak bola. Namun, keinginannya untuk menjelajahi budaya Eropa dan belajar di sana telah membawa dia ke jalan yang tak terduga. Mimpi untuk berada di Benua Biru akhirnya terwujud ketika dia menjadi bagian dari divisi kreatif Como 1907.
“Kalau boleh jujur sebetulnya saya tidak menyangka dan mungkin tidak ada yang berpikir saya sampai ada di titik ini (videografer klub sepak bola Como 1907),” jelas pria kelahiran 1985 itu dikutip dari Radar Malang, Jawa Pos Grup.
Perjalanan awalnya sebagai videografer Como 1907 tidaklah mudah. Dia dihadapkan pada sejumlah tantangan, seperti harus menciptakan video dengan sudut pandang yang berbeda, namun tetap menarik untuk dipromosikan kepada masyarakat, termasuk di Indonesia.
Selain itu, jadwal yang padat sering kali memaksanya untuk bekerja dalam waktu yang sangat terbatas, dengan tuntutan untuk memberikan hasil yang berkualitas tinggi dalam waktu singkat.
“Harus benar-benar zero mistake,” kata pria domisili di Jalan Sulfat Agung itu.
Namun, Rahadyan tidak menyerah saat dihadapkan tantangan. Dengan perencanaan yang matang, riset yang teliti, dan kreativitas yang tak terbatas, dia berhasil menghadapi setiap situasi dengan tangguh.
Setiap hari, dia berhasil melahirkan karya-karya yang menarik dan informatif untuk klub, meskipun dalam tekanan waktu yang tinggi. “Mereka (orang Italia) menghargai dan lebih terbuka untuk masalah seni video dan foto,” tuturnya.
Bagi Rahadyan, hari pertandingan adalah salah satu momen tersibuk dan paling menantang. Sebagai seorang videografer dan fotografer, dia harus menjalankan tugas ganda dengan efisiensi tinggi, menghasilkan konten yang berkualitas dalam waktu yang sangat terbatas.
Namun, dengan konsentrasi yang tinggi dan perencanaan yang matang, dia berhasil mengatasi setiap hambatan dengan baik. “Apalagi video juga harus cepat ya,” tuturnya.
Perjalanan Rahadyan menuju Como 1907 dimulai ketika dia melihat lowongan pekerjaan melalui story Instagram Mola TV pada 2021. Meskipun awalnya tidak yakin, dia memutuskan untuk mencoba dan mengirimkan portofolio karyanya.
Setelah melewati proses seleksi yang ketat, dia akhirnya berhasil mendapatkan posisi tersebut, membuktikan bahwa kerja keras dan ketekunan selalu membuahkan hasil.
“Pada fase itu kabarnya ada ratusan pelamar yang juga ikut tes,” kata alumunus SMA Islam Malang itu.
Selama kariernya sebagai videografer, Rahadyan telah terlibat dalam berbagai proyek kreatif, termasuk pembuatan video klip band dan film pendek. Salah satu karyanya yang berjudul "Nunggu Teka" bahkan mendapatkan penghargaan internasional sebagai film pendek terbaik di festival sinema Australia-Indonesia pada 2017.
“Pada waktu itu dulu pegang handycam dan mulai coba-coba,” jelas pria yang sempat mengambil jurusan Pariwisata Universitas Brawijaya tersebut.
Dengan kerja keras, ketekunan, dan keyakinan pada diri sendiri, Rahadyan telah membuktikan bahwa mimpi Eropa bukanlah hal yang tidak mungkin untuk diwujudkan, bahkan bagi orang dari Malang seperti dirinya.
Editor : Halo Jember