HALO JEMBER – Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Jember dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim 2025 mendatang tidak sekadar menargetkan meraih medali. Namun, juga balas dendam kepada Kabupaten Pasuruan.
Ambisi untuk bisa menaklukkan atlet berkuda dari Kabupaten Pasuruan tersebut karena kecepatan kuda dari Kota Suwar-Suwir ini kerap terhalangi Abdi Dhalem, nama kuda asal Kabupaten Pasuruan.
Ketua Pordasi Jember, sekaligus Owner Jember Riding Club (JRC) Rahaditha Viraq Prakasa, menyebut bahwa kuda Abdi Dhalem memang tidak bisa disepelekan. Terlihat di beberapa kejuaraan lalu, atlet berkuda Jember selalu dibuat kewalahan.
Meski begitu, ia menyebut sudah cukup puas melihat potensi yang dimiliki oleh kontingen Jember. Baik kudanya maupun atletnya. Sebab, kekalahannya tidak mutlak, dan jaraknya tidak terlalu jauh. “Di garis finis nyaris bersamaan. Namun, kuda asal Pasuruan lebih cepat sedikit,” ungkapnya.
Dengan demikian, itu akan menjadi evaluasi sekaligus tantangan bagi atlet berkuda Jember. Terutama dalam menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2025 mendatang. “Harus mampu balas dendam di Porprov nanti. Kami evaluasi dulu, baik atlet maupun perawatan kudanya,” jelasnya.
Dia mengakui, cukup berat untuk menumbangkan kuda Abdi Dhalem milik Abah Misbahul Munir dari Kabupaten Pasuruan itu. Walau begitu, pihaknya optimistis potensi olahraga berkuda yang dimiliki Jember tidak akan kalah saing pada Porprov nanti.
“Abah Misbahul Munir ini salah satu pemilik arena pribadi pacuan kuda standar nasional, sehingga sangat wajar jika selalu unggul. Namun, kita pun tak bisa kalah saing. Harus bisa menumbangkan, minimal seimbang,” pungkasnya. (dhi/c2/dwi)
Baca Juga: Beri Peluang Pelajar Pinggiran Jadi Atlet Berkuda Biaya Mahal, Mulai Difasilitasi Beasiswa
SEJARAH OLAHRAGA BERKUDA
Olahraga equestrian atau berkuda sebenarnya bisa ditarik hingga ribuan tahun lalu. Ketika kuda mulai digunakan untuk alat transportasi dan perang.
Pada abad ke-5 SM, mayoritas ksatria Yunani menggunakan kuda untuk berperang. Tidak hanya bangsa Yunani yang memakai kuda dalam transportasi dan perang. Berbagai bangsa, Eropa hingga Persia pun juga memakai kuda. Termasuk era kerajaan di Indonesia. Kuda tetap menjadi transportasi andalan hingga untuk perang.
Lalu pada abad ke-2 SM, aktivitas berkuda mulai menjadi kegiatan berolahraga. Orang-orang mulai mengadakan acara sirkus dan balap kuda. Kegiatan ini mulai menyebar ke Eropa pada abad pertengahan.
Seiring waktu, olahraga berkuda mulai berkembang pada abad ke-19 dan terciptalah cabang olahraga equestrian yang sudah memiliki aturan dasar. Saat itu, equestrian terdiri dari beberapa kompetisi seperti melompat kuda, polo, dan 3-day event.
Popularitas equestrian makin mendunia setelah akhirnya pada 1912, olahraga ini resmi diperkenalkan sebagai olahraga resmi di Olimpiade Stockholm. Saat itu, hanya dua jenis olahraga berkuda yang diakui, yaitu dressage dan eventing.
Baru pada Olimpiade Helsinki 1952, ditambahkan jenis melompat kuda.Makin berkembangnya zaman, aturan tentang equestrian pun makin berkembang dan beradaptasi. Pada 1990-an, olahraga equestrian mulai memperhatikan perlindungan kuda dan keselamatan atletnya.
Salah satu bentuknya adalah dengan membentuk beberapa organisasi seperti Federasi Equestrian Internasional yang bekerja sama dengan lembaga pemerintah dan nirlaba untuk meningkatkan kesejahteraan kuda.
Tahun 2023 Masuk Porprov Jatim
Walau berkuda sejatinya menjadi aktivitas masyarakat sejak lampau hingga jadi ajang perlombaan. Namun, untuk kompetisi resmi di Porprov Jatim dimulai 2023 lalu.
Venue cabor berkuda equestrian berlokasi di lapangan berkuda Yussar Stable and riding Desa Kalidawir, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo. Sebelum itu, cabor berkuda juga dipertandingkan di Porprov Jatim 2022 lalu.
Pada Porprov Jatim 2022 tersebut, cabor berkuda hanya sebagai persahabatan saja atau laga eksibisi saja. Lokasi pertandingan eksibisi itu digelar di Bondowoso, Jawa Timur.
Editor : Dwi Siswanto