HALOJEMBER – Seleksi atlet yang disiapkan untuk Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim telah dilakukan Persatuan Binaraga Fitnes Indonesia (PBFI) Jember. Dalam seleksi tersebut juga mendatangkan juri binaraga nasional.
Ketua PBFI Jember, Junaedi Caprio menjelaskan, proses seleksi melibatkan seluruh gym di Jember yang memiliki atlet di bawah usia 23 tahun.
Seleksi terbuka itu diharapkan mampu menjaring atlet-atlet terbaik untuk mewakili Kota Suwar-Suwir, agar bisa mendulang medali di Porprov Jatim 2025 yang digelar di Malang Raya.
“Penilaian dilakukan berdasarkan ketebalan otot, kekeringan otot, ketajaman otot, serta simetris tubuh sesuai kategori masing-masing,” terangnya.
Kepada Jawa Pos Radar Jember, pria yang juga menjabat sebagai Ketua Komando Inti Mahatidana (KOTI) Pemuda Pancasila Jember itu menjelaskan tahapan-tahapan seleksi.
Dikatakan seleksi berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama untuk mendata calon atlet yang potensial, sementara tahap kedua menentukan kelas berdasarkan berat dan tinggi badan sesuai regulasi perlombaan.
“Tahap pertama sudah kami lakukan Minggu (23/2) kemarin, kemudian tahap dua setelah hari raya nanti,” sebut Junaedi.
Agar seleksi berjalan transparan dan bebas intervensi, pihaknya telah menghadirkan tiga juri nasional berlisensi resmi PBFI. Tiga juri tersebut yang nantinya akan menentukan atlet yang berhak melaju Porprov.
“Jumlah kuota untuk Porprov IX mendatang masih menunggu pembagian dari KONI Jember. Kalau di Porprov VII 2022 kemarin kami dapat 10 kuota atlet, Porprov VIII 2023 malah lebih sedikit lagi 8 kuota plus official,” bebernya.
Kendati demikian, atlet PBFI Jember mampu menyumbangkan torehan medali yang cukup baik. Sejak terpisah dari Persatuan Angkat Berat, Bina Raga, Angkat Besi Seluruh Indonesia (PABBSI).
PBFI Jember menyabet satu perak dan dua perunggu di Porprov Jatim 2022. Capaian serupa terulang di Porprov VIII di Sidoarjo.
“Peluang untuk bersaing masih terbuka lebar di Porprov Jatim IX 2025. Kami ingin hasil lebih baik,” ujar pria yang juga pengurus KONI Jember itu.
Junaedi mengungkapkan sulitnya persaingan binaraga di Jatim. Hal itu karena atlet di bawah 23 tahun masih dalam proses pembentukan otot. Berbeda dengan cabang olahraga lain yang lebih mengandalkan skill. “Padahal kalau Porprov di luar Jatim itu tidak ada batasan usia,” terangnya. (yul/dwi)
Editor : Halo Jember