KEPATIHAN, Halo Jember - Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim IX 2025 di Malang Raya resmi ditutup, Sabtu (5/7). Closing ceremony tersebut sekaligus menjadi catatan pahit menurunnya prestasi olahraga Jember.
Bagaimana tidak, Jember yang pada Porprov edisi sebelumnya finish di peringkat ke-15 sejatinya ditargetkan untuk naik peringkat.
Namun yang terjadi justru sebaliknya, Jember terjun 5 peringkat ke posisi 20.
Tak dapat dimungkiri, hasil tersebut juga menurunkan gengsi Jember. Sebab peringkat rendah menimbulkan kesan lemahnya pembinaan olahraga.
Bidang Pembinaan Prestasi (Binpres) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jember, Soetriono menyampaikan, sebelumnya pihaknya memasang target kenaikan peringkat setidaknya berada di posisi 10 hingga 14.
Namun karena beberapa faktor, target tersebut meleset jauh.
“Di Jember atlet Porprov berkurang sebanyak 48 persen karena efisiensi, asumsinya di daerah lain juga berkurang 48 persen namun ternyata tidak,” katanya.
Pria yang juga merupakan Guru Besar Faperta Unej itu melanjutkan, pada Porprov tahun ini Jember hanya mampu memfasilitasi 252 kontingen, jauh lebih sedikit dibanding pesaingnya.
Sebut saja Banyuwangi di peringkat 15 yang membiayai 513 kontingen sementara Lumajang di peringkat 17 memberangkatkan 323 kontingen.
Faktor penurunan peringkat yang lain adalah kurangnya persiapan.
Dikatakan, cabor di Jember hanya mendapat anggaran untuk training center (TC) sebanyak lima hari. Hal ini membuat banyak cabor kurang siap.
Apabila dibandingkan dengan Porprov 2022 lalu saat Jember berada di peringkat 9. Kala itu diadakan pusat latihan cabor (Puslatcab) selama empat bulan.
“Kalau tahun 2022 lalu, cabor dikasih dana hibah. Ada Puslatcab tiap hari Jumat, Sabtu, Minggu yang bekerja sama dengan kampus-kampus selama empat bulan. Sehingga lebih terpantau, stamina lebih terjaga. Sekarang justru Kediri yang menerapkan hal itu, dengan hanya 289 kontingen, namun bisa menempati peringkat sebelas,” paparnya.
Selain itu, terdapat hal yang kurang diantisipasi oleh Jember, yakni keberadaan cabor baru.
Jember berfokus untuk mengejar prestasi pada cabor unggulan, tanpa terlalu memperhatikan cabor baru.
Padahal cabor baru juga mempertandingkan banyak medali.
“Awalnya kami sempat peringkat atas, bahkan saat pemberangkatan Jember sempat peringkat sepuluh, namun begitu cabor baru dipertandingkan, peringkat Jember mulai turun," jelasnya.
Dia melanjutkan, apalagi di cabor baru memperebutkan banyak medali, satu atlet bisa meraih tiga medali.
"Ada beberapa atlet Jember yang ikut cabor baru yang meraih medali bahkan lebih baik dari cabor unggulan, tentu nantinya kami akan melakukan perhitungan apakah cabor baru tersebut akan masuk kategori unggulan atau supporting,” tutupnya. (yul/nur)
Editor : Sidkin