AJUNG, Halo Jember - Dari 25 nama punggawa Persid U17 yang akan segera berkompetisi pada ajang Piala Soeratin U17, ada dua nama di antaranya adalah pemain ‘asing’. Keduanya adalah Sujiwan Sulistiyo dan Fepbi Alamsyah yang berasal dari kota Gandrung, Banyuwangi.
Suji sapaan Sujiwan berasal dari Desa Balak, Kecamatan Songgon sedangkan Fepbi merupakan pemain asal Desa/Kecamatan Rogojampi.
Keduanya merupakan siswa di SMAN 1 Rogojampi. Masing-masing memiliki motivasi yang berbeda dalam memperkuat Persid Jember.
Bagi Suji, bergabung dengan Persid Jember merupakan upaya untuk mencari pengalaman, dirinya memang ingin berkarir di luar kota kelahirannya.
Meski dengan pilihan itu dia diharuskan bolak balik Jember-Banyuwangi, menurutnya itu adalah harga yang harus dibayar untuk mencapai hal yang diinginkan.
“Saya ingin mendapat pengalam baru, jadi tidak berkutat di Banyuwangi saja. Saya juga ingin menambah teman,” kata pemain yang berposisi sebagai center back itu.
Suji menceritakan, dirinya bersama Fepbi pada awalnya harus wira-wiri antara Jember dan Banyuwangi, terlebih saat mengikuti seleksi pada awal Juni lalu.
Sebab saat itu mereka masih belum memasuki masa libur sekolah.
Sedangkan saat dinyatakan lolos dan menjalani latihan rutin, hal itu bertepatan dengan masa libur sekolah.
“Sekarang menetap di Jember di rumah teman. Kalau kemarin pakai motor bolak-balik ke Jember karena harus sekolah,” ujarnya.
Tak jauh berbeda dengan Suji, Fepbi mengaku termotivasi membela Persid Jember U17 karena ingin mencari pengalaman lebih.
Baca Juga: Ribuan Suporter Rayakan Hari Jadi Persid, Ingin Musim Depan Naik Kasta
Bahkan dirinya mendapat dukungan penuh dari pihak keluarga.
“Waktu kecil saya sering main sepak bola di lapangan dekat rumah, dulu pakai bola plastik. Kemudian ayah mendaftarkan ke SSB kemudian mengarahkan saya untuk ikut seleksi Persid U17. Memang biaya yang dikeluarkan tidak sedikit, karena anggapannya kami merantau di sini. Namun alhamdulillah keluarga mendukung penuh,” kata Fepbi.
Lebih lanjut, baik Suji maupun Fepbi mengaku sempat mengalami kendala bahasa saat berinteraksi dengan rekan satu tim yang keseluruhannya dari Jember.
Meski sama-sama menggunakan bahasa Jawa, perbedaan logat membuat mereka kadang kala salah persepsi saat berkomunikasi.
“Ada perbedaan di beberapa kosa kata. Selain itu di sini logatnya keras-keras. Jadi kadang kami tidak mengerti, kadang yang lain ngobrol biasa kami kira sedang marah,” ujar Fepbi.
Sementara itu pelatih Persid U17, Achmad Jainuri menyebut, pihaknya tidak membatasi pemain Persid U17 harus berasal Jember.
Baginya, siapa pun memiliki kesempatan yang sama untuk memperkuat Persid U17 tanpa memandang status sosial ataupun daerah asal.
“Saat seleksi awal Juni lalu, ada sejumlah pemain luar kota yang ikut. Tiga dari Banyuwangi dan dua dari Bondowoso. Namun yang berhasil lolos hingga sekarang tinggal Suji dan Fepbi,” terangnya. (yul/nur)
Editor : Sidkin