SEKILAS seperti permainan tolak peluru. Tapi petanque (baca: petang) punya aturan bermainnya sendiri.
Olahraga asal Prancis ini baru masuk Indonesia 2011, lantas di Jember 2019. Wajar, jika belum banyak yang tahu apalagi menjadi atletnya.
Sebenarnya bermain petanque gampang gampang susah.
Tapi bagi pemula dan kebanyakan atlet kerap membuat kesalahan saat bermain. Sehingga membuat lemparan tak maksimal bahkan melanggar aturan main.
Anton Tri Cahyono, pelatih cabang olahraga (cabor) petanque Jember mengatakan, kebanyakan, pemula sering membuat kesalahan saat melempar bola besi (bosi).
Lemparan tidak presisi dan tidak sesuai target hingga mendekati bola kayu (boka).
"Arah bola masih gak bisa dikontrol, ke kanan atau kiri," ucapnya.
Sebelum melakukan aksi lemparan, selain ancang-ancang, perlu juga observasi lapangan sebelum bermain.
Cek kondisi lapangan, mulai dari tekstur hingga derajat kemiringan.
Posisi tangan ketika hendak mengayun hingga melesatkan bosi ke depan, harus lurus.
Tidak boleh miring atau melengkung. Kesalahan lain yang haru diperhatikan adalah telapak tangan ketika bosi sudah dilempar harus mengarah ke depan, sementara jari-jari rapat.
Tangan cukup diayunkan dengan prediksi lemparan berada di jarak antara enam sampai sepuluh meter. Di sini lah letak kesalahan yang kerap dilakukan kebanyakan atlet.
"Lemparan ngawur pakai full power inilah yang sering keliru. Padahal tinggal pakai ayunan yang sangat lembut," ulas mahasiswa Prodi Olahraga Universitas Muhammadiyah Jember itu.
Lemparan tidak terkontrol membuat ayunan tampak kaku. Tidak mencapai target lemparan. Akhirnya hanya akan membuahkan poin kecil.
Petanque bisa dimainkan individu, berpasangan, atau beregu. Semuanya sama-sama harus memperhatikan aturan mainnya.
Entah karena belum terbiasa atau tak berkonsentrasi, kaki atlet atau pemula lainnya kerap terangkat sebelah. Padahal itu adalah larangan.
Telapak kaki harus menapak tanah selama proses hingga selesai lemparan, apapun yang terjadi.
Saat bosi mulai terlepas dari telapak tangan, kaki harus tetap bertahan pada posisinya.
Jinjit bisa jadi solusi jika tak bisa menapak seluruhnya. "Kalau kaki diangkat satu, maka bisa kena kartu kuning," kata Anton. (sil/dwi)
Editor : Dwi Siswanto