Halo Jember - Perjuangan Melinda Aprilia menggeluti olahraga balap sepeda bukan main, dengan sepeda usangnya, tanjakan puluhan kilometer sudah jadi makanannya sehari-hari. Belum lagi larangan orang tua yang sempat dia hadapi.
Hampir setiap hari sepulang sekolah, Melinda menanjak gunung gambir yang jarak dari rumahnya sekitar 50 kilometer.
Itu jarak yang tidak pendek, terlebih bagi Melinda yang kala itu masih menduduki bangku kelas dua di SMPN 1 Kencong.
Belum lagi kala itu sepeda usang yang dimilikinya hanya bergigi dua yang tak memiliki banyak opsi untuk berbagai medan.
“Sepedanya masih jelek, gear nya hanya dua, jadi berat sekali kalau tanjakan,” kenangnya kepada Halo Jember.
Melinda melanjutkan, kecintaannya pada dunia balap sepeda dimulai sejak kelas 5 SD.
Berawal dari sering mengikuti hobi sang ayah gowes, seiring waktu berjalan Melinda kemudian tertarik mengikuti fun bike.
Tak lama, dia mulai ikut lomba kecil dan akhirnya menembus podium juara 3 saat lomba tingkat kabupaten di Lumajang.
“Dari situ makin semangat latihan, meski belum ada lomba juga tetap gowes,” ucapnya.
Namun kecintaan Melinda terhadap olahraga sepeda sempat menghadapi pertentangan keras dari sang ibu.
Melinda menuturkan, sang ibu melarang karena olahraga bersepeda dianggap cukup berbahaya, terlebih olahraga ini mayoritas diikuti para lelaki.
Bahkan sepedanya sempat digantung di atap agar Melinda berhenti bersepeda.
“Kalau gowes ikut bapak memang jauh, bisa sampai ke luar kota. Pesertanya hanya saya yang masih SMP, yang lain bapak-bapak semua teman ayah saya. Jadi sama ibu sempat gak boleh. Tapi setelah dibicarakan lagi, akhirnya disetujui, yang penting tidak sampai meninggalkan sekolah,” jelasnya.
Selain latihan ke Gunung Gambir, Melinda tak jarang ikut gowes lintas daerah. Seperti Jember–Situbondo, bahkan sampai Banyuwangi pernah dijajahnya.
Dia sering jadi satu-satunya goweser cilik di tengah rombongan bapak-bapak.
Latihannya tak main-main, terkadang bersama sang ayah, dia menanjak tingginya Rembangan, gabung sektor timur komunitas sepeda Jember.
“Tujuan atau rute pesepeda Jember itu biasanya terbagi dua, daerah barat ke Gunung Gambir, termasuk saya. Sementara Daerah timur ke Rembangan, tapi kadang saya dari Kencong ke Rembangan karena lebih menantang,” ceritanya antusias.
Suatu hari dalam sebuah kegiatan gowes, Melinda didatangi Ketua Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) Jember, Aries Bawono yang kemudian menyarankannya untuk mengikuti kompetisi antar pelajar, yakni Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA).
Kala itu, meski lawan yang dihadapi berusia SMA, Melinda yang masih berstatus SMP berhasil meraih podium ke satu.
Tak berhenti disitu, beberapa bulan kemudian pada ajang Porprov Jatim 2025.
Melinda kembali mempersembahkan medali emas dari nomor MTB Cross Country Olympic (XCO) putri.
Dia juga mengantarkan timnya menyumbangkan perak di nomor beregu Cross Country Team Relay (XCR) bersama Agit Adafi dan Chesta Ardiona.
Prestasi yang luar biasa bagi Melinda yang baru pertama kali terjun di ajang ini. Karena usianya yang masih begitu muda, Melinda masih bisa menjadi ujung tombak Jember Porprov di beberapa edisi mendatang. (yul/kin/nur)
Editor : Sidkin