KEPATIHAN, Halo Jember - Ajang olahraga dua tahunan paling bergengsi di Jatim, Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim 2025 baru saja usai.
Banyak catatan dan evaluasi yang perlu segera dilakukan. Sebab, dalam dua edisi terakhir Porprov, prestasi Jember terus saja merosot.
Pada edisi Porprov Jatim 2022 Jember yang sebagai tuan rumah bersama dengan Lumajang, Bondowoso, dan Situbondo peringkatnya langsung melejit ke-9.
Namun, prestasi itu turun setahun setelahnya yaitu Porprov 2023 dengan finis di peringkat 15. Terakhir peringkat 20 di Porprov 2025.
Kabid Pembinaan dan Prestasi KONI Jember, Soetriono menyampaikan, kondisi ini tidak boleh terus dibiarkan.
Menurunnya peringkat di Porprov akan mencoreng wajah Jember khususnya dalam bidang olahraga.
“Porprov ini gengsi pemerintah daerah di bidang olahraga. Kalau prestasinya jelek multiplier effect nya banyak, salah satunya Jember akan dianggap tidak memiliki kualitas pembinaan yang baik,” tegasnya.
Selain itu, merosotnya peringkat Jember di Porprov juga akan berdampak langsung pada mental para atlet.
Menurut Soetriono, seorang atlet olahraga prestasi memiliki visi dan tujuan yang lebih besar dari sekadar memenangkan perlombaan.
“Melalui olahraga, atlet bisa menata karirnya sejak dini. Kalau olahraga hanya dijalani tanpa mengejar prestasi, ya akan begitu-begitu saja. Jika seorang atlet tidak memiliki visi, maka motivasi itu tidak akan muncul,” ujarnya.
Lebih lanjut, menurut pria yang juga merupakan Guru Besar Pertanian Unej itu, terdapat sejumlah kiat yang bisa dilakukan untuk mendongkrak prestasi Jember pada Porprov edisi mendatang.
Di antaranya adalah menggelar pusat latihan cabor (Puslatcab) seperti yang dilakukan pada tahun 2022 lalu.
Melalui pemusatan latihan yang didukung dana hibah dari pemerintah kabupaten.
Maka, cabor bisa menggelar training center (TC) setidaknya empat hingga enam bulan sebelum Porprov.
Dalam jangka waktu tersebut para atlet bisa meningkatkan performa dan tetap terpantau.
“Cabor bisa bekerjasama dengan universitas yang membidangi cabor tersebut, kemudian bisa mendatangkan pelatih bersertifikasi. Memang mahal, makanya harus ada dana hibah dari pemerintah. Tanpa ada dukungan dana banyak cabor yang akan stagnan karena tak memiliki biaya,” terangnya.
Soetriono juga menjelaskan, Puslatcab harus menerapkan sistem promosi degradasi yang transapran untuk menyaring atlet terbaik.
Tak kalah penting diperlukan pengukuran kapasitas aerobik dan kebugaran VO₂max (baca: V-O two max).
“Tanggung jawab Puslatcab ada di KONI namun harus bekerja sama dengan universitas dan berbagai pihak,” tutupnya. (yul/dwi)
Editor : Sidkin