HALOJEMBER – Di saat umat Muslim menjalani Ramadan hingga merayakan Lebaran, kompetisi sepak bola di Eropa tetap berjalan seperti biasa.
Jadwal padat liga-liga top seperti Inggris, Spanyol, hingga Italia nyaris tidak mengalami perubahan signifikan.
Kondisi ini kerap memunculkan pertanyaan, mengapa kompetisi tetap berjalan di tengah momen besar keagamaan bagi sebagian pemain?
Pengamat sepak bola, Budi Santoso menjelaskan bahwa kalender kompetisi di Eropa disusun berdasarkan musim, bukan berdasarkan perayaan keagamaan tertentu.
“Liga-liga di Eropa itu berbasis musim, biasanya dimulai sekitar Agustus dan berakhir di musim semi.
Jadi jadwalnya sudah terkunci sejak awal,” jelasnya.
Menurutnya, padatnya jadwal juga menjadi alasan utama. Klub harus menyelesaikan kompetisi domestik, piala, hingga kompetisi Eropa dalam waktu terbatas.
Jika kompetisi dihentikan terlalu lama, akan berdampak pada jadwal keseluruhan, termasuk kontrak siaran dan agenda internasional.
“Kalau dihentikan, efeknya bisa ke mana-mana, mulai dari jadwal timnas sampai hak siar,” ujarnya.
Meski demikian, sejumlah klub dan pemain Muslim tetap menyesuaikan diri selama Ramadan.
Tidak sedikit pemain yang tetap berpuasa meski harus bertanding.
Dalam beberapa kasus, pertandingan bahkan memberikan toleransi seperti jeda singkat untuk berbuka puasa di tengah laga.
“Adaptasinya ada di pemain dan klub, bukan di kompetisinya,” katanya.
Ia menegaskan bahwa sepak bola modern sudah menjadi industri global, sehingga banyak faktor yang harus dipertimbangkan dalam penyusunan jadwal.
“Bukan hanya soal olahraga, tapi juga bisnis dan kepentingan banyak pihak,” pungkasnya.(yul)
Editor : Yulio Faruq Akhmadi