HALO JEMBER - Kiprah Ponpes Assunniyyah Kencong dalam dakwah menyebarkan ajaran Islam berlangsung sejak tiga tahun sebelum kemerdekaan Indonesia. Ponpes di Jember itu mengalami jatuh bangun, hingga terus bersemi sampai saat ini. Bagaimana kisahnya?
Pondok Pesantren Assunniyyah Kencong bukanlah pesantren pinggiran biasa, namun lokasinya ada di perbatasan Jember-Lumajang.
Kini, sudah ada ratusan ribu orang dari berbagai daerah pernah nyantri di pesantren yang dibangun KH Djauhari sejak 1942 silam. Menjadi satu di antara pesantren terbesar di Kota Suwar Suwir.
Perjalanan Pesantren Assunniyyah sejak sebelum kemerdekaan Indonesia penuh halang rintang. Menurut cerita Ahmad Ghonim Jauhari atau yang akrab di sapa Gus Ghonim , salah satu pengasuh pesantren saat ini, embrio Assunniyyah berawal dari langgar (musala) yang menjadi pusat mengaji oleh KH Djauhari.
Tak lama, santri semakin banyak dan pesantren didirikan. Nama Assunniyyah, sama seperti pesantren yang didiriikan oleh sang ayah, KH Zawawi di Lasem.
Assunniyyah pra kemerdekaan juga menjadi tempat pelarian banyak pejuang bangsa hingga pasukan hisbullah. Ini didengar oleh penjajah Jepang. Saat agresi militer pada 1946, pesantren dibakar hingga habis. Para santri berlarian menyelamatkan diri.
“Karena dianggap pemberotak,” ungkap Gus Ghonim.
KH Djauhari yang sebelumnya telah dikejar tentara Jepang berlari ke Muneng, Gumukmas. Selang beberpa tahun, Assuunniyyah yang telah habis dibakar kembali dibangun mulai dari nol, sekitar 1950, pasca kemerdekaan.
“Mulai dirintis lagi dan langsung ada ratusan santri,” katanya.
Masa sebelumnya, pesantren tersebut tidak mengenal sistem kelas. Tapi sejak peristiwa pembakaran itu, Assunniyyah kembali dirintis dan membuat sistem klasikal atau kelas-kelas. Meski belum ada pendidikan formal.
Santri terus bertambah. Usia mereka tak berbatas usia sekolah seperti saat ini. Berbagai kelompok usia seperti paruh baya pun ikut nyantri.
Sekira 1965, Assunniyyah kembali mendapatkan goncangan. Gus Ghonim mengatakan, kala itu ada semacam penyakit yang umum disebut ‘kresek’ menyebar hingga Kencong.
Juga bisa dikatakan sebagai pandemi. Banyak santri mengalami sakit perut mendadak tanpa sebab dan tak lama meninggal dunia. Penyakit itu satu persatu dialami santri, seolah menyebar. Mereka yang tak terjangkit memilih pulang.
Prahara kembali datang. Kala itu terjadi gerakan September tiga puluh (Gestapu). Peristiwa bersejarah yang erat dikaitkan dengan pemberontakan G30S dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Hingga membuat Assunniyyah turut tergoncang. “Sampai santri habis (pulang),” sebut putra bungsu KH Djauhari itu.
Assunniyyah lantas vakum lagi. Sang pendiri tidak berputus asa begitu saja. Hingga kondisi telah memungkinkan, pesantren kembali aktif. Santri-santri banyak berdatangan. Yang lama dan banyak lagi yang baru. Terus berkembang hingga pada 1994 KH Djauhari wafat dan pesantren diteruskan oleh putra-putranya.
Selain Gus Ghonim, Ahmad Sadid Jauhari juga turut menjadi pengasuh Assunniyyah hingga kini bersamanya. Mengembangkan pesantren hingga saat ini memiliki banyak pendidikan formal islam. Mulai dari MI hingga perguruan tinggi ada dalam kompleks lahan sepuluh hektar.
Perguruan tinggi lain di luar kompleks pun juga telah berdiri khusus untuk mahasiswa yang memilih tidak nyantri.
Selain menjadi tempat menimba ilmu warga Kencong, juga menjadi pilihan pesantren yang banyak diminati masyarakat luar daerah bahkan pulau. Seperti Maluku, Kalimantan, hingga Sumatra.
Eksistensinya membuat Jember menjadi daerah yyang dikenal baik sebagai basis pesantren di Jawa Timur. Saat ini, santri Assunniyyah telah mencapai delapan ribu orang.
Ajaran islam di pesantren tersebut masih mempertahankan nilai-nilai yang ditanamkan oleh KH Djauhari hingga sekarang. Termasuk kitab-kitab yang dipakai. Di antaranya kitab tafsir Jalalain, tafsir Munir, Ihya’ulumuddin. Shohih Bukhori, dan Ta’limul Muta’allim. Bersambung (nur)
Editor : Dwi Siswanto