M ADHI SURYA, TANGGUL - Radar Jember - Halo Jember
MESKIPUN banyak yang menisbatkan beliau dengan nama Habib Sholeh Tanggul, namun Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid sebenarnya dilahirkan di Desa Wadi ‘Amd, Hadramaut, Yaman, pada 17 Jumadilawal 1313 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 1895 Masehi.Baca Juga: Mengenal Kota Seiwun di Yaman. Negeri Kaum Saba hingga Habaib
Hal ini diungkapkan oleh cucunya, Habib Muhdor Al Hamid, dalam sebuah dokumentasi di Majelis Al Fata.
Habib Sholeh berasal dari keluarga yang sangat terhormat dan alim. Ayah beliau, Habib Muhsin bin Ahmad al-Hamid, adalah seorang ulama terkemuka di Wadi Amd, yang dikenal dengan julukan Al-Bakri Al-Hamid. Ibunya, Aisyah, berasal dari keluarga Al-Abud Ba Umar.
“Sejak kecil, Habib Sholeh sudah dibekali dengan ilmu agama yang mendalam. Guru utamanya adalah ayahnya sendiri, Habib Muhsin bin Ahmad al-Hamid,” tuturnya.
Pada usia 26 tahun atau sekitar tahun 1921 Masehi, Habib Sholeh memutuskan untuk berhijrah ke Indonesia bersama Syekh Fadhli Sholeh Salim bin Ahmad Al-Asykari. Dalam perjalanan hijrahnya, beliau sempat singgah di Gujarat, India, sebelum akhirnya berlabuh di Jakarta. Baca Juga: Makam Habib Sholeh Tanggul Jember Ramai Peziarah Saat Ramadan, Ada Apa?
Selama di Jakarta, Habib Sholeh mengunjungi para ulama dan bertemu dengan saudara sepupunya, Habib Muhsin bin Abdullah al-Hamid, yang telah lebih dahulu menetap di Indonesia. Tepatnya di Lumajang, dan meminta Habib Sholeh Tanggul untuk mengunjungi kediamannya di Lumajang.
Selama berada di Lumajang, Habib Sholeh mendedikasikan diri untuk berdakwah dengan keliling desa-desa di wilayah tersebut selama 12 tahun. Namun, perjalanan dakwahnya tidak berhenti di sana.
Ia memutuskan untuk pindah ke Tanggul setelah menjalani masa uzlah atau khalwat selama lebih dari tiga tahun. Masa uzlah ini adalah periode di mana beliau menyendiri untuk beribadah, berpikir, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Baca Juga: Habib Abu Bakar Assegaf Gresik Beri Mandat Habib Sholeh Tanggul Berangkat Haji
Setelah masa penyepian tersebut, Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Segaf, seorang ulama terkemuka dari Gresik, memerintahkan Habib Sholeh untuk mengakhiri masa khalwatnya dan datang ke Gresik.
Di sana, Habib Abu Bakar memberikan beliau mandat dan ijazah kewalian, yang ditandai dengan pemberian jubah imamah dan sorban hijau sebagai simbol status quthb yang diembannya. Habib Abu Bakar juga menyarankan Habib Sholeh untuk menunaikan ibadah haji, yang menjadi salah satu perjalanan penting dalam hidupnya.
Beberapa tahun kemudian, Habib Sholeh menerima hadiah sebidang tanah dari seorang pengusaha setempat, Haji Abdur Rasyid. Di atas tanah tersebut, beliau membangun Masjid Riyadus Shalihin yang kemudian diwakafkan untuk kepentingan umat.
Masjid ini menjadi salah satu pusat kegiatan dakwah beliau di Tanggul, dan hingga kini masjid tersebut masih berdiri sebagai saksi bisu dedikasi Habib Sholeh dalam menyebarkan ajaran Islam. (Bersambung) (c2/nur)
Editor : Dwi Siswanto