HALOJEMBER.COM – Tradisi pegon merupakan warisan leluhur sejak tahun 1989.
Hingga saat ini tradisi pegon masih digelar dalam merayakan Hari Raya Idul Fitri.
Puluhan pegon memeriahkan Festival Watu Ulo Pegon yang diadakan di Desa Sumberejo, Kecamtan Ambulu, Minggu (21/4).
Cikar yang ditarik dengan dua sapi itu dihias menggunakan janur kuning dan ketupat warna-warni.
Baca Juga : Haul Habib Sholeh-Tanggul, Keturunan Rasulullah SAW, Berikut Biografinya
Selain itu ada juga yang dihias dengan berbagai hasil bumi, seperti jagung dan ketela.
Pegon merupakan kendaraan tradisional berupa kereta yang ditarik dua sapi.
Ditengah kemajuan zaman dan teknologi pegon masih digunakan warga Ambulu untuk bekerja.
Bupati Jember Hendy Siswato mengaku kagum dengan tradisi pegon itu.
Menurutnya tradisi pegon memiliki potensi untuk menjadi bagian dari kesenian dan kekayaan budaya yang harus dilestarikan.
Baca Juga : Wah! Bakal Ada Tiara Andini di JFC 2024, Netizen : Demi Apa Ada Titi di JFC
Oleh karena itu pihaknya mengajukan kepada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) RI agar tradisi pegon menjadi bagian penting dari kebudayaan Indonesia.
"Sudah kami ajukan sebagai budaya warisan tak benda yang harus diakui secara resmi," jelasnya.
Festival Pegon berawal dari sebuah tradisi masyarakat Ambulu pada tahun 1980. Setiap perayaan Hari Raya ketupat warga akan pergi wisata ke Pantai Watu Ulo.
Saat itu pegon menjadi kendaraan yang dimiliki oleh warga. Sehingga mereka berbondong-bondong menuju Watu Ulo dengan menggunakan Pegon.
Lambat laun kebiasaan itu menjadi tradisi yang diwariskan hingga saat ini.
Editor : Halo Jember