HALOJEMBER.COM – Indonesia menjadi negara yang rawan terjadi bencana sama seperti Jepang. Berada di tiga lempek teknonik, Indo-Austalia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik, maka tidak salah gugusan gunung berapi ada di Indonesia.
Karena banyaknya gunung berapi itulah, Indonesia juga rawan terjadi bencana gempa bumi, letusan gunung berapi, hingga tsunami.
Letusan gunung berapi di Indonesia yang menimbulkan tsunami dan tercatat dalam sejarah modern adalah Gunung Krakatau pada tahun 1883.
Letusan gunung berapi yang muncul dari dasar laut antara Pulau Sumatera dan Pulau Jawa, membuat setengah 36 ribu melayang dan menimbulkan tsunami dengan tinggi mencapai 36 meter.
BACA JUGA : Sejarah Awal Mula dan Manfaat Sholawat Habib Sholeh Tanggul
Berbicara tsunami, juga sempat dihebohkan bahwa sisi selatan Pulau Jawa memiliki potensi mengalami gempa besar atau megathrust dengan potensi tsunami setinggai 14-20 meter.
Ancaman bencana itu muncul ke permukaan setelah Peneliti ITB Sri Widiyantoro membuat sejumlah pemodelan untuk menilai bahaya inundasi atau fenomena banjir di kawasan pesisir akibat pasang/surut air laut.
Dari hasil pemodelan, kawasan selatan pantai Jawa Barat dan Jawa Timur kan kena dampak tsunami.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat sejak tahun 1818 telah terjadi 11 kali tsunami di sisi selatan pantai Jawa.
- Tsunami Banyuwangi (1818)
- Tsunami Bantul (1840)
- Tsunami Tulungagung (1859)
- Tsunami Kebumen (1904)
- Tsunami Jember (1921)
- Tsunami Pangandaran (11/09/1921)
- Tsunami Banyuwangi (1925)
- Tsunami Purworejo (1957)
- Tsunami Banyuwangi (03/06/1994)
- Tsunami Pangandaran (17/7/2006)
- Tsunami Jawa Barat Selatan (02/09/2009).
Kassubag Mitigasi Gempa PVMBG Akhmad Solihin mengatakan belasan kejadian tsunami tersebut dipicu oleh gempa bumi. "Itu khusus tsunami yang dipicu oleh gempa bumi," ucapnya pada tahun 2020.
Menariknya pada Tsunami yang terjadi tahun 1921 di Jember dan Pangandaran Jawa Barat. Pada tahun itu juga menjadi tahun dimana Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid lebih dikenal luas sebagai Habib Sholeh Tanggul itu datang ke Indonesia.
BACA JUGA : Haul Habib Sholeh-Tanggul, Keturunan Rasulullah SAW, Berikut Biografinya
Habib Sholeh bin Muhsin Al Hamid dilahirkan di desa Qorbah Ba Karman, Hadramaut, Yaman pada 17 Jumadil Ula tahun 1313 Hijriyah bertepatan pada tahun 1895 Masehi.
Dalam kitab manaqib, disebutkan bahwa silsilah dan nasab Habib Sholeh bin Muhsin Al Hamid sampai pada Rasulullah SAW, dari Husain bin Ali bin Abi Thalib.
Dalam buku Seri Buku Islam: Habib di Nusantara, Karnaval Habib Kota, karya Shahab, Idrus F. (2019), disebutkan bahwa saat berusia 26 tahun, Habib Sholeh memutuskan berhijrah ke Indonesia bersama Syeikh Fadhli Sholeh Salim bin Ahmad al-Asykari.
Dalam hijrah tahun 1921 itu, Habib Sholeh pertama kali mendatangi Jakarta. Tidak lama di Ibu Kota, sepupuh Habib Sholeh,yaitu Habib Muhsin bin Abdullah al-Hamid, meminta Habib Sholeh untuk berkunjung ke rumahnya di Lumajang.
Pada tahun 1921 itulah juga waktu yang sama saat Jember mengalami tsunami. Tidak ada literasi yang jelas, apakah Habib Sholeh datang ke Lumajang itu yaitu kota bertetangga dengan Jember ini, sebelum tsunami atau sesudahnya.
BACA JUGA : Ini Potret Lautan Massa di Haul Habib Sholeh Tanggul
Namun, kemungkinan besar Habib Sholeh juga merasakan dampak dasyatnya tsunami bagi warga.
Apalagi, di Lumajang Habib Sholeh tinggal di Kecamatan Tempeh. Yaitu kecamatan yang juga memiliki pantai selatan dan juga tidak jauh dengan Jember.
Terlebih lagi, saat di Lumajang, Habib Sholeh mengabiskan waktu 12 tahun untuk berkeliling dari satu desa ke desa lainnya.
Selain berdakwah, Habib Sholeh juga dikenal sebagai pedagang kain dan pakaian.
Setelah dari Lumajang, akhirnya Habib Sholeh memutuskan untuk tinggal di Kecamatan Tanggul, Jember.
Editor : Halo Jember