HALO JEMBER - Habib Abu Bakar Assegaf Gresik memiliki nama lengkap Abu Bakar bin Muhammad bin Umar Assegaf. Lahir di Besuki, Situbondo dan menghabiskan waktu serta berdakwa di Gresik, Jawa Timur.
Di Kota Pudak, sebutan Gresik, itulah Habib Abu Bakar Assegaf juga disemayamkan. Tepat di Masjid Jami Gresik. Maka tidak salah saat Haul Habib Abu Bakar Assegaf, Alun-Alun Gresik itu dipadati jamaah.
Habib Abu Bakar Assegaf wafat pada malam Senin tanggal 17 Dzulhijah 1367 H atau 15 Juli 1957 dalam usia 91 tahun. Menjelang wafatnya, habib berpuasa selama 15 hari dan sering berkata, “Aku merasa bahagia akan berjumpa dengan Allah SWT.”
Sudah 67 tahun wafat, tapi cerita tentang karomah Habib Abu Bakar Assegaf ini masih jadi cerita khalayak. Apalagi, pada momentum ibadah haji seperti sekarang ini. Sebab, salah satu karomah Habib Abu Bakar Assegaf ini tiba-tiba muncul di jamaah haji kala itu.
Dikisahkan, suatu hari ada tetangga Habib Abu Bakar sedang berangkat Haji dengan menaiki kapal milik Belanda. Namun, sebelum berangkat meminta doa ke Habib Abu Bakar untuk kelancaran ibadah hajinya.
Dahulu kala, dalam perjalanan haji itu tidak seperti sekarang dengan naik pesawat. Melainkan naik kapal laut. Bahkan, dulu orang yang berangkat haji juga tak sedikit yang pulang hanya nama saja. Sebab, menempuh perjalanan yang cukup berbahaya dengan melintasi samudra.
Saat dalam perjalanan, kapal yang dinaiki oleh tetangganya tersebut terjadi badai dan ombak besar. Kemudian kapal yang dinaikinya terombang-ambing. Seketika orang Belanda meminta orang-orang untuk berdoa pada tuhannya.
Sementara, tetangga Habib Abu Bakar berdoa dan bertawassul pada Habib Abu Bakar. Khusyuknya berdoa, tiba-tiba Habib Abu Bakar muncul dari dalam laut dengan berpakaian lengkap layaknya beliau sedang berada di majelis.
Kemudian Habib Abu Bakar mengusap kapal tersebut. Seketika ombak langsung berhenti. Sepulangnya dari haji, tetangganya langsung menemui Habib Abu Bakar ke rumahnya untuk berterima kasih atas kejadian badai waktu itu.
Akan tetapi, Habib Abu Bakar justru menyuruh tetangganya untuk pulang seraya berkata, “Diam jangan diberi tahu orang lain, kalau saya sudah wafat baru boleh kau beri tahu orang lain.”
Lepaskan Anak dari Jin
Karomah lain yang dikenal oleh masyarakat adalah bagaimana Habib Abu Bakar Assegaf menyelamatkan anak yang hilang dibawa jin.
Suatu ketika, datang seorang pejabat ke Habib Abu Bakar. Pejabat itu sedang mencari anaknya yang hilang cukup lama. Kedatangannya di kediaman Habib Abu Bakar untuk menanyakan keberadaan anaknya yang hilang tersebut.
Saat didatangi pejabat tersebut, Habib Abu Bakar pun memahami kondisi psikologis orang tua yang kehilangan anaknya. Tak banyak bicara, Habib Abu Bakar pun mengatakan,“Anak itu sudah melakukan suatu kesalahan yang sangat besar, sekarang posisinya diikat di atas pohon oleh Jin penunggu pohon besar di tengah jalan,”
Pejabat tersebut memohon kepada Habib Abu Bakar agar putranya diselamatkan. Kemudian habib mengajak para jemaah dan penduduk mendatangi pohon besar itu. "Hai Jin penunggu pohon besar lepaskan anak itu cepat!” pinta habib.
Seketika itu juga anak pejabat itu terlihat di rantai di pohon besar dengan sebelahnya api panas. Semua mata melihat dengan takut dan kagum, Habib Abu Bakar bisa memperlihatkan dunia jin di siang bolong.
Jin itu menjawab,"Iya Habib, karena kemuliaanmu aku lepaskan anak itu sekarang dan aku kembalikan ke alam kalian (manusia).”
Sekarang pohon itu sudah ditebang untuk dijadikan jalur jalan turun menuju ke arah makam Syekh Maulana Ibrahim.
Semangat Belajar Habib Abu Bakar
Habib Abu Bakar Assegaf memang wali Allah dan memiliki karomah atas ijin Allah SWT. Dibalik itu semua, Habib Abu Bakar juga dikenal sebagai orang yang tekun dan rajin dalam belajar ilmu agama. Seperti yang dilakukan Habib Abu Bakar Assegaf Gresik, yang semasa hidupnya merantau sampai ke Yaman untuk menimba ilmu agama.
Pada usia 8 tahun Habib Abu Bakar Assegaf justru memilih merantau ke Hadramaut, Yaman untuk belajar ilmu agama. Mengutip Laduni.id, pada 1293 H Habib Abu bakar berangkat ke untuk menimba ilmu ke tanah para waliyullah dan itu merupakan permintaan nenek dari pihak ibunya, Fathimah binti Abdullah 'Allan. Selama di Hadramaut, Habib Abu Bakar berguru ke beberapa ulama terkemuka seperti Habib Abdullah bin Umar Assegaf (pamannya), Habib Syeikh bin Umar bin Segaf Assegaf, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi (penulis Maulid Simtudduror), Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur (mufti di Hadramaut pada zaman itu), dan lainnya.
Selain berguru, Habib Abu Bakar gemar berziarah mengunjungi makam para ulama salaf. Kebiasaan itu terus dilakukan hingga beranjak dewasa. Baginya, ulama salaf mendapatkan kedudukan yang tinggi karena selalu memanfaatkan waktunya untuk belajar, beribadah, dan bermunajat kepada Allah SWT.
Bertahun-tahun belajar di Hadramaut, Habib Abu Bakar pulang ke Indonesia pada 1302 H dengan ditemani Habib Alwi bin Segaf Assegaf. Ia sempat menetap di Besuki, Situbondo untuk memperdalam ilmu agama yang diperoleh dari Hadramaut.
Selama tiga tahun ia habiskan waktunya di Besuki. Pada 1305 H, berpindah ke Gresik pada usia 20 tahun. Selama berpindah ke Gresik Habib Abu Bakar mengunjungi para ulama dan auliya zaman itu. Ia belajar, meminta ijazah, atau berkah kepada para ulama salaf pada zaman itu.
Di antara ulama salaf tersebut adalah Habib Abdullah bin Muhsin al-Attas Empang Bogor, Habib Abdullah bin Ali al-Haddad Bangil, Habib Ahmad bin Abdullah al-Attas Pekalongan, Habib Abu Bakar bin Umar bin Yahya Surabaya, dan masih banyak lagi.
Editor : Halo Jember