Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

UNIK! Festival Kelepon Rayakan Hari Jadi Desa Semboro, Tumpengan Kelepon Diarak Keliling Sejauh 5 Kilometer

Halo Jember • Rabu, 29 Mei 2024 | 19:11 WIB
KEARIFAN LOKAL: Masyarakat Desa Semboro mengarak ratusan tumpeng berisi kelepon saat memperingati hari jadi desa, Minggu lalu (27/5). ULUM
KEARIFAN LOKAL: Masyarakat Desa Semboro mengarak ratusan tumpeng berisi kelepon saat memperingati hari jadi desa, Minggu lalu (27/5). ULUM

HALOJEMBER.COM - Kelepon Jajanan tradisional yang terbuat dari tepung ketan dan berisi gula merah. Kuliner yang satu ini memiliki banyak penggemar. Teksturnya kenyal dengan rasa gurih taburan kelapa dan kejutan gula aren yang manis.  

Yah, jajanan tradisional yang khas dengan tampilan warna cerah mencolok ini sudah dikenal lama oleh masyarakat. Khususnya di desa-desa.

Menariknya, di salah satu desa di Jember, tepatnya Desa/Kecamatan Semboro, kelepon dibuat dalam berbagai ukuran. Lalu, ditumpuk menjadi satu dalam bentuk tumpeng yang jumlahnya ratusan.

Bukan tanpa alasan. Warga setempat membuat kelepon itu karena bertepatan dengan hari jadi desa setempat yang ke-117 tahun.

Pemerintah desa setempat bahkan telah mengukuhkan festival tumpeng kelepon itu sebagai bagian dari tradisi/kebudayaan desa. 

"Festival Kelepon asal Desa Semboro memang unik. Ini turun-temurun dan dilestarikan tiap tahun. Selain sebagai budaya, juga sebagai cikal bakal Desa Semboro dengan mengelar parade atau festival tumpeng kelepon, dengan berjalan kaki keliling desa," jelas Kepala Desa Semboro Antoni, Minggu (26/5). 

Saat itu, festival yang sudah menjadi agenda tahunan desa tersebut berlangsung cukup meriah. Ratusan warga ikut serta dalam festival tersebut. Mereka mengarak tumpeng kelepon itu keliling desa sejauh sekitar 5 kilometer.

Iring-iringan tumpeng kelepon yang dipanggul warga dengan berbagai ukuran itu pun sukses membuat ribuan pasang mata terpukau.

Para peserta dari perangkat desa dan masyarakat setempat juga kompak mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah.

Sambil berjalan kaki, mereka juga melantunkan doa-doa memohon keselamatan bersama sekaligus rasa syukur atas karunia dari Sang Mahakuasa.

Kata Antoni, ada filosofi mendalam dalam kelepon dan perayaan festival tersebut. "Ini memasuki tahun ke-117, kirab budaya tumpeng kelepon ini adalah filosofi dari kerukunan masyarakat dari berbagai latar belakang. Tapi, disatukan dalam sebuah wadah. Ibarat kata jajanan kelepon ini kan lengket dan di dalamnya ada rasa manis gula. Itu adalah salah satu simbol keharmonisan masyarakat kami," jelas dia.

Untuk menambah kemeriahan festival tersebut, pemerintah desa setempat juga memberikan sejumlah door prize kepada masyarakat yang membawa tumpeng kelepon paling unik. Baik dari segi tampilan, warna, maupun penyajiannya.

Tari-tarian tradisional khas warga perdesaan juga mengiringi kirab tumpeng kelepon saat itu. Tak hanya masyarakat setempat, warga dari beberapa desa tetangga juga hadir merapat.

Seolah tak mau melewatkan festival yang hanya berlangsung setahun sekali itu.

"Selain membawa tumpeng kelepon, kami memakai baju adat. Tujuannya untuk selamatan desa, dan menjadi ikon Desa Semboro," imbuh Lilik, salah satu peserta kirab dan festival kelepon, saat itu. (mau/c2/fid)

 

 

Editor : Halo Jember
#jember #kelepon #jajanan tradisional