Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Jelang Idul Adha, Inilah Sejarah Perintah Qurban yang Belum Banyak Diketahui

Didik Supriyanto • Senin, 3 Juni 2024 | 23:19 WIB
Ilustrasi: Hewan Qurban
Ilustrasi: Hewan Qurban

HALOJEMBER.COM – Idul adha diperingati setiap tanggal 10 Dzulhijjah tahun Hijriyah. Hari raya idul adha identik dengan qurban, yakni penyembelihan hewan yang memenuhi kriteria berdasarkan syariat Islam. Syariat qurban telah ada sebelum masa kenabian Muhammad SAW.

Menurut sejarah, qurban telah ada sejak jaman manusia pertama yaitu Nabi Adam. Yaitu pada saat terjadinya perselisihan antara Qabil dan Habil. Ketika itu Allah menurunkan perintah kepada keduanya untuk berqurban sebagai bentuk pengorbanan hati dan taqwa mereka kepada tuhannya.

Qabil yang seorang petani diperintahkan berqurban dengan hasil bumi miliknya. Sedangkan Habil yang menjadi seorang peternak, diperintahkan untuk berkurban dengan hasil ternaknya.

Perintah berqurban juga turun kepada Nabi Ibrahim, namun dalam bentuk pelaksanaan yang berbeda dengan masa nabi Adam. Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putranya yang bernama Ismail.

Namun pada hari penyembelihan, melihat keteguhan keimanan dan ketaqwaan nabi Ibrahim dan putranya, Allah mengganti Ismail dengan seekor domba besar. Sehingga Ismail tidak jadi disembelih.

Dikutip dari laman mui.or.id, perintah berqurban diturunkan juga kepada Nabi Muhammad beserta umatnya. Dalam surat al-Hajj ayat 34 disebutkan bahwa umat islam disyariatkan untuk berkurban. “Bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban) agar mereka menyebut nama Allah atas binatang ternak yang dianugerahkan-Nya kepada mereka. Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa. Maka, berserah dirilah kepada-Nya. Sampaikanlah (Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang rendah hati lagi taat (kepada Allah).”

Prof Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, menjelaskan tujuan diperintahkan syariat berqurban kepada umat Islam dan umat terdahulu adalah sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Cara tersebut dilakukan agar manusia menyadari kebesaran-Nya sekaligus mematuhi segala perintah-Nya.

Selain itu, pola kata yang digunakan pada ayat di atas yaitu mansakan yang berasal dari kata nasak yang memiliki arti menyembelih. Kata ini merujuk kepada tempat yang diartikan sebagai tempat penyembelihan.

Berdasarkan hal tersebut, sebagian ulama memperluas makna dari kata mansakan menjadi ibadah dan ketaatan secara umum. Dengan demikian, umat manusia telah diberikan Allah SWT ritual ibadah dan ketaatan dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya.

Dalam surah al-Kautsar ayat 2, perintah berqurban secara spesifik. “Maka, laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!”

Jika melihat sejarah berkurban dari kisahnya nabi Ibrahim dan Ismail, secara manusiawi seseorang tidak akan mungkin menyembelih darah dagingnya sendiri. Terlebih apabila kehadiran seorang anak merupakan dambaan bagi orang tua.

Begitu pula pergolakan batin dalam pelaksanaan qurban tersebut bukanlah hal yang mudah. Sebagai manusia sekaligus seorang ayah, tentunya berulang kali berpikir untuk menyembelih anaknya.

Namun, perintah yang diturunkan kepadanya bukanlah dari makhluk, melainkan dari Allah Ta’ala, dzat yang menguasai jagad raya, Tuhan dari seluruh alam semesta.

Kisah ini diabadikan dalam surat as-Shaffat ayat 104-108. “Kami memanggil dia, “Wahai Ibrahim, sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Kami menebusnya dengan seekor (hewan) sembelihan yang besar. Kami mengabadikan untuknya (pujian) pada orang-orang yang datang kemudian.”

Syariat berqurban juga turun di masa Nabi Muhammad SAW dan umatnya. Melalui hewan yang dikurbankan di hari yang telah ditentukan, Allah SWT mengajak hamba-Nya untuk turut menyembelih egoisme yang bersemayam dalam diri.

Allah menginginkan manusia tidak menghamba pada nafsu diri. Sebab satu-satunya yang berhak disembah dan dan tempat manusia menghambakan diri hanyalah kepada Allah. Hakikat berqurban yang merupakan simbolisme pengorbanan dan taqwa, menjadi jalan bagi manusia untuk mendekat kepada-Nya. ()

Editor : Halo Jember
#syariat #Qurban #idul adha #Adam #muhammad