Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Cerita Keunikan hingga Mistis Tradisi Petik Laut di Pantai Puger Jember, Selalu Digelar Pada Bulan Suro  

Dwi Siswanto • Kamis, 4 Juli 2024 | 23:38 WIB

 

Petik Laut di Puger, Jember. Tradisi ini selalu dilakukan pada bulan suro. (JUMAI/RADAR JEMBER)
Petik Laut di Puger, Jember. Tradisi ini selalu dilakukan pada bulan suro. (JUMAI/RADAR JEMBER)

HALO JEMBER - Pantai Puger terletak di Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur, dan menjadi salah satu destinasi wisata favorit masyarakat Jember berkat pesona alamnya yang indah serta keunikan tradisi masyarakat setempat.

 Pantai ini memiliki panjang sekitar 3 km dan pintu masuk bagi nelayan yang menuju pelelangan pantai Puger, yang dikenal dengan istilah "pelawangan".

Pantai Puger menawarkan pemandangan laut yang memukau dengan ombak yang cukup besar, menjadikannya tempat yang ideal bagi para penggemar olahraga selancar.

Selain itu, pantai ini juga terkenal dengan hasil lautnya, yang menjadi sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat.

 Setiap hari, perahu-perahu nelayan berlabuh di pantai ini, membawa hasil tangkapan ikan yang segar. Keunikan lain dari Pantai Puger adalah aura mistisnya yang khas, terutama karena tradisi larung sesaji yang dilakukan setiap tahun pada bulan Suro.

 Baca Juga: Larangan Keluar Rumah hingga Tradisi Kerbau Bule. Berikut Mitos, Larangan, dan Ritual Malam 1 Suro

Tradisi Petik Laut di Pantai Puger, yang sering dilakukan pada bulan Suro atau Muharram ini, memiliki akar dalam kepercayaan dan kebudayaan yang kaya. Awalnya dikenal sebagai Labuh Sesaji, tradisi ini tidak hanya sebagai ungkapan syukur kepada laut dan Tuhan, tetapi juga sebagai doa bagi keselamatan nelayan dari bahaya laut.

 Petik laut sendiri sebenarnya dilaksanakan untuk memberi persembahan ke Nyi Tlenges yang dikenal dengan Punggawa Nyi Roro Kidul, yang dipercaya berada di Plawangan dimana di tempat ini sering menelan korban jiwa para nelayan.

 Dahulu, Petik Laut di Puger dimulai secara sederhana dengan upacara selamatan dan persembahan sesaji. Sesaji, seperti Ubo Rampen, diarak ke pantai, disertai dengan Prosesi Ujub-ujub dan tarian persembahan.

 Baca Juga: Heboh Weton Tulang Wangi di Malam 1 Suro. Apa keistimewaannya?

Sesampainya di pantai, sesaji diletakkan di perahu yang telah dihias dengan aneka warna. Perahu ini kemudian dibawa ke tengah laut untuk dilarung. Nelayan mengumandangkan doa dan sholawat, serta mengambil air bunga untuk diminum dan disiramkan ke kapal mereka.

 Namun, setelah Puger diangkat sebagai destinasi wisata oleh pemerintah Kabupaten Jember, tradisi ini menjadi lebih meriah dengan tujuan menarik perhatian wisatawan.

 

Menurut beberapa nelayan Puger, tradisi dan mitos di sepanjang pantai Puger hingga pantai Kucur telah diwariskan turun-temurun. Mereka percaya arah mata angin merupakan penunjuk keberuntungan saat melaut. Jika sesajen atau tumpeng berlabuh ke arah utara dan berhenti di tengah laut, maka di situlah lokasi berkumpulnya ikan.

 Tidak heran jika arah angin, kompas, dan perahu menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat pesisir Pantai Puger, yang erat kaitannya dengan mitologi tersebut.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga menjadi daya tarik wisata yang mampu meningkatkan perekonomian lokal.

 Tradisi ini memberikan keberanian kepada nelayan untuk menghadapi ombak laut selatan yang ganas dan perlindungan dari serangan gaib, baik dari ilmu hitam antar nelayan maupun kemalangan lainnya.

 

 Penulis: Sufi Binti Khofifah

 

Editor : Dwi Siswanto
#jember #puger #petik laut #sesaji #nyi loro kidul