HALO JEMBER - Suku Jawa telah lama dikenal dengan warisan tradisi keagamaannya yang kaya. Salah satunya tradisi Ruwatan dan mitologi seputar anak sukerta. Istilah "sukerta" berasal dari bahasa Jawa yang menggambarkan kondisi kotor, terganggu, atau cacat.
Menurut kepercayaan lokal, anak sukerta dipercaya akan dimangsa oleh Batara Kala, membawa dan memiliki nasib sial.
Ruwat sendiri sama dengan kata luwar yang berarti dilepas atau dibebaskan dalam bahasa Jawa.
Sebab itu, upacara Ruwatan dilakukan dengan tujuan melindungi manusia dari segala macam bahaya yang ada di dunia.
Bagi masyarakat Jawa, momen penting dalam kehidupan seperti kelahiran, pernikahan, dan kematian dianggap sakral. Ritual seperti syukuran, bancakan, kenduren, atau slametan diadakan sebagai bentuk perlindungan dari kemalangan atau sial yang mungkin datang.
Bentuk ruwatan dalam tradisi Jawa biasanya akan dilakukan acara wayang kulit dengan lakon Murwakala dan Purwakala. Tradisi ruwatan tersebut dikakukan sebagai bentuk permohonan agar manusia diselamatkan dari berbagai gangguan.
Untuk mengenal istilah bocah sukerta, maka perlu mengetahui contoh bocah sukerta nama dalam bahasa Jawa.
Berikut adalah jenis-jenis anak sukerta (anak yang diruwat) beserta karakteristiknya:
- Bocah ontang-anting: anak laki-laki tunggal tanpa saudara kandung.
- Bocah unting-unting: anak perempuan tunggal tanpa saudara kandung.
- Bocah uger-uger lawang: dua anak laki-laki bersaudara kandung.
- Bocah kembang sepasang: dua anak perempuan bersaudara kandung.
- Bocah cukul dhulit: tiga anak perempuan bersaudara kandung.
- Bocah gotong mayit: tiga anak laki-laki bersaudara kandung.
- Bocah saka panggung: empat anak laki-laki bersaudara kandung.
- Bocah sarimpi: empat anak perempuan bersaudara kandung.
- Bocah pandawa: lima anak laki-laki bersaudara kandung.
- Bocah pancagati: lima anak perempuan bersaudara kandung.
- Bocah kedhana-kedhini: dua anak laki-laki dan satu anak perempuan bersaudara kandung.
- Bocah sendhang kapit pancuran: anak perempuan berada di tengah-tengah saudara kandungnya.
- Pancuran kapit sendhang: dua anak perempuan dan satu anak laki-laki bersaudara kandung, dengan anak laki-laki sebagai anak kedua (berada di tengah-tengah).
- Bocah kembar: sepasang anak kembar dengan jenis kelamin yang sama.
- Bocah dhampit: sepasang anak kembar dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan.
- Bocah gondhang kasih: sepasang anak kembar dengan perbedaan warna kulit.
Baca Juga: Heboh Weton Tulang Wangi di Malam 1 Suro. Apa keistimewaannya?
- Bocah ipil-ipil: empat anak laki-laki dan satu anak perempuan.
- Bocah podangan: empat anak perempuan dan satu anak laki-laki.
- Bocah jempina: anak yang lahir prematur.
- Bocah julung caplok: anak yang lahir bersamaan dengan saat terbenamnya matahari.
- Bocah julung kembang: anak yang lahir bersamaan dengan saat terbitnya matahari.
Masyarakat Jawa memperlakukan setiap jenis anak sukerta dengan cara yang berbeda, sesuai dengan kepercayaan dan keyakinan yang turun temurun diwariskan dari generasi ke generasi.
Setelah mengetahui jenis anak sukerta yang dimaksud, dapat dilihat bahwa setiap jenis memiliki karakter sendiri. Kamu termasuk yang mana?
Penulis: Sufi Binti Khofifah
Editor : Dwi Siswanto