HALO JEMBER - Jember, sebuah kabupaten yang terkenal dengan kebudayaan dan tradisinya yang kaya. Salah satu ciri khas yang menarik dari Jember adalah bahasa Jemberan. Bahasa jemberan yang mencampurkan bahasa Jawa dan Madura menjadi satu atau sering disebut bahasa Pandalungan.
Bahasa ini memiliki beberapa istilah yang mungkin asing bagi orang yang belum pernah tinggal di Jember.
Bahasa Pandalungan khas Jember adalah hasil dari akulturasi dan asimilasi kebudayaan antara budaya suku Jawa dan Madura. Bahasa ini banyak diserap dari kosakata bahasa Madura dan menggunakan intonasi serta leksikon yang dominan dari bahasa Jawa.
Berikut adalah beberapa istilah bahasa Jemberan yang perlu Anda ketahui:
- CREME
Kata ini sering keluar saat seseorang benar-benar sudah nggak tahan lagi dengan omongan orang lain yang cerewet banget. Bayangin aja, lagi santai-santai tiba-tiba ada yang datang terus ngoceh panjang lebar, nyuruh-nyuruh, nyinyir, dan ngomel-ngomel nggak jelas.
- CARPAK
Carpak ini semacam sinonimnya bohong, dusta, omong kosong, dan sejenisnya. Kebayang nggak sih, ada orang yang cerita sesuatu dengan gaya meyakinkan, tapi kenyataannya cuma omong kosong belaka? Entah itu buat orang yang suka nge-hype sesuatu yang nggak ada buktinya atau yang suka nyebar gosip palsu, kata ini cocok banget buat mereka.
- MARA SENG GENNAH
Kalimat ini biasa diucapkan ke seseorang yang tindakannya kurang baik atau benar. Misalnya, ada teman yang suka nyelonong masuk rumah orang tanpa permisi atau parkir sembarangan. "Mara seng gennah!" teriak temannya. Dalam bahasa Indonesia, bisa diartikan sebagai "Ayo yang bener dong!" Sebuah seruan untuk mengingatkan agar orang lain berperilaku lebih baik dan benar.
- LETER
Leter adalah kata umpatan dalam bahasa Madura yang biasa diucapkan ke orang yang sok cantik atau ganteng, centil, atau genit. Misalnya, ada orang yang suka banget menggoda pasangan orang lain di depan umum, otomatis langsung dapat label "Leter". Bisa juga buat orang yang hobi tebar pesona di mana-mana, biar dikira populer.
- YAK APA PAS
Ini adalah kalimat tanya khas Madura yang sering digunakan saat seseorang kebingungan dan nggak tahu harus gimana. Misalnya, ada yang lagi nyari solusi buat masalah yang ribet banget, terus tiba-tiba dia berhenti dan bertanya, "Yak apa pas?" Dalam bahasa Indonesia, artinya bisa "Gimana dong ini?" Sebuah kalimat yang menunjukkan keputusasaan dan kebingungan.
- KARDI
Kardi adalah singkatan dari “Kareppa Dibik” yang dalam bahasa Madura berarti seenaknya sendiri atau egois. Ini biasanya ditujukan ke orang yang selalu mementingkan dirinya sendiri tanpa peduli sama orang lain. Misalnya, ada yang selalu ambil keputusan tanpa diskusi, pokoknya maunya sendiri terus, nah, dia ini pasti dapat sebutan "Kardi".
- MAK TAGER
Kalimat ini sering diucapkan ke orang yang keterlaluan atau berlebihan dalam melakukan sesuatu. Misalnya, ada yang mantannya sampe ngejar-ngejar dan bikin drama di media sosial, temannya pasti akan bilang, "Mak tager ngunu yo mantanmu?" yang berarti “Kok bisa segitunya ya mantanmu?” Sebuah ungkapan yang menunjukkan bahwa tindakan itu sudah terlalu berlebihan dan tidak masuk akal.
Baca Juga: Perempuan Harus Tahu, Sisa Make-Up Bisa Sebabkan Blefaritis
- CONGOCO
Congoco adalah kata lain dari ‘Ngapusi’, biasanya diucapkan kepada seseorang yang berbicara tidak sesuai dengan kenyataan atau berbohong, dusta, dan mencoba membodohi kita. Bayangin aja ada yang cerita tentang betapa hebatnya dia, padahal itu semua cuma bualan belaka. Jadi, Congoco adalah respons yang pas buat orang yang suka ngapusi dan membesar-besarkan cerita mereka.
- BEN SEROMBEN
Ben Seromben dalam bahasa Madura berarti sembarangan, seadanya, atau “terserah”. Misalnya, ketika wanita ditanya mau makan apa, dan jawabnya “seromben dah”, itu artinya dia nggak punya preferensi khusus dan terserah aja mau makan apa. Ini sering muncul di percakapan sehari-hari, terutama saat lagi bingung mau ngambil keputusan kecil yang nggak terlalu penting.
- PALANG
Kalimat ini memiliki arti sangat nahas, celaka, atau malang. Biasanya diucapkan ketika keadaan dianggap kurang baik, misalnya ada yang mengalami kecelakaan, lupa ngerjain tugas padahal udah waktunya dikumpulin, dan hal mengejutkan lainnya.
Penulis: Sufi Binti Khofifah
Editor : Dwi Siswanto