HALOJEMBER.COM - Menjadi warga yang tinggal di sekitaran lokasi pertambangan tentunya memiliki banyak dampak. Terutama kesehatan.
Hal ini yang dialami oleh warga Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger. Warga yang memiliki rumah mengeluhkan polusi yang berdampak pada kesehatan. Batuk dan sesak nafas mulai dialami.
Hapid Fuadi 48, salah satu warga yang memiliki rumah di kaki Gunung Sadeng mengatakan, telah mengalami sesak nafas sejak dua tahun lalu. Itu diketahui karena dampak debu dari tambang setiap hari.
"Kalau malam pasti saya minum obat agar tidur saya lebih nyenyak. Karena kalau tidak, kadang hingga pagi hari saya tidak bisa tidur dan merasa tersiksa," ujarnya.
Dia seringkali berdiskusi dengan istrinya untuk pindah rumah ke tempat yang lebih aman dari debu.
Namun, hingga saat ini keinginannya belum bisa terjadi karena beberapa alasan.
"Alasannya macam-macam, kadang anak yang belum lulus sekolah, atau takut tidak punya tetangga baru. Kata istri saya begitu," ucapnya.
Sedangkan pengendara motor, Baharuddin 30, menyebut, kalau sudah melewati perbatasan antara Desa Grenden dan Desa Puger Kulon pasti menutup hidung pakai baju.
Karena bila tidak begitu kadang kelilipan. "Kalau sudah lupa pakai helm bisanya pakai baju," katanya.
Kepala TU Puskesmas Puger, Agus replitarto menyebut, salah satu keluhan dari warga setempat saat berobat adalah batuk yang disebabkan oleh debu dari area tambang. "Iya, apalagi bisa perih ke mata, debu tambangnya itu," ucapnya.
Namun, saat Agus dimintai terkait data warga Kecamatan Puger, yang terkena polusi, pihaknya tidak berkenan. Sebab, harus izin kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember.
"Kalau mengenai data warga yang terdampak polusi harus mengkonfirmasi pihak terkait. Agar kami dapat memberikan data tersebut dan bisa diekspos di media sosial," pungkasnya. (abm/fid).
Editor : Halo Jember