HALOJEMBER.COM - Ratusan perempuan yang didominasi ibu-ibu itu, berkumpul di aula salah satu hotel di Jember, kemarin (21/7). Namun ada yang berbeda dalam pertemuan tersebut, mereka tampak menggunakan kebaya sebagai busananya.
Terlihat mereka melakukan berbagai kegiatan, mulai dari talkshow, fashion show hingga lane dance.
Hal tersebut digelar dalam rangka memperingati hari kebaya nasional, yang dilaksanakan setiap 24 Juli. Tahun ini merupakan kali pertama dilaksanakan.
BACA JUGA :Jangan Ngaku Orang Jember Kalau Belum Ngerti Bahasa Jemberan Ini
Penetapan hari nasional tersebut memang baru ditetapkan oleh pemerintah pada 2023 silam.
Sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023 tentang Hari Kebaya Nasional (HKN). Harapannya generasi muda mengenal dan mencintai warisan budaya nusantara tersebut.
Ketua Panitia Hari Kebaya Nasional di Jember Nanik Indra menyampaikan, peringatan tersebut menyusul adanya keputusan presiden, tentang hari kebaya nasional meski tidak ditetapkan sebagai hari libur nasional.
“Ini pertama kali diperingati di seluruh Indonesia,” katanya.
Berbagai komunitas perempuan di Jember terlihat antusias mengikuti acara yang disiapkan sebelumnya.
Mereka dengan kompak menggunakan kebaya sebagai busananya. Bahkan Istri Bupati Jember Kasih Fajarini juga turut hadir dalam peringatan tersebut.
BACA JUGA: “Siwil” Manusia KerdiL di Taman Nasional Meru Betiri. Mitos atau Fakta?
Dia juga menjelaskan tujuan peringatan kebaya nasional perdana itu, untuk mengajak perempuan Indonesia lebih mencintai kebaya.
Dengan cara memakainya tidak hanya sebatas ketika dalam acara tertentu saja. “Harapannya kebaya ini dijadikan sebagai pakaian sehari-hari,” tuturnya.
Sementara itu, Nunung Nuring Hayati Humas Komunitas Kebayaan Jember mengatakan, memiliki kebaya khas yang baru diperkenalkan dalam peringatan perdana kali ini.
Hal tersebut terinspirasi dari perempuan yang berjuang agar pakaian tradisional itu, dapat diterima dengan baik oleh masyarakat, serta diakui oleh Unesco sebagai bagian dari warisan budaya tak benda.
Lebih lanjut, perempuan yang juga dosen di Universitas Jember (Unej) ini menegaskan, kebaya harus terus dikenalkan kepada generasi muda, sebagai busana asli Indonesia.
Terdapat nilai yang perlu terus diingat, yakni perjuangan dan cinta tanah air. “Dari dua nilai itu, menjadi semangat kami untuk terus mengenalkan Kebaya,” pungkasnya. (ham/nur)
Editor : Halo Jember