Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Tanamkan Toleransi hingga Kepedulian Sosial, Gerakan Seniman Kampanyekan Perdamaian

Halo Jember • Senin, 19 Agustus 2024 | 16:10 WIB
MEMUKAU PENGUNJUNG: Siswa Sekolah Tiga Bahasa Rukun Harapan menampilkan musik orkestra dalam acara pameran seni Museum Cahaya. MOCH AFFANDI
MEMUKAU PENGUNJUNG: Siswa Sekolah Tiga Bahasa Rukun Harapan menampilkan musik orkestra dalam acara pameran seni Museum Cahaya. MOCH AFFANDI

HALOJEMBER.COM - Masyarakat Jember semakin peduli pada dunia seni. Seperti event bernama Museum Cahaya yang digagas para pegiat seni di Jember untuk mempertemukan berbagai macam karya seni.

Mulai dari parade puisi, lukisan, film, kerajinan tangan, pertunjukan musik, hingga aksi teater.

Panitia penyelenggara, Wiviano Rizky Tantowi, mengatakan, pertunjukan seni yang diselenggarakan tiap dua tahun sekali itu mengusung tema Merupa-Rupakan Adab Batu.

Tema tersebut merefleksikan sifat keras kepala pada manusia yang dapat dikikis dengan adanya adab yang disalurkan melalui seni.

Sementara itu, penamaan Museum Cahaya dapat diartikan sebagai koleksi ingatan yang tertuang pada karya yang diharap mampu mencerahkan perasaan suram. “Museum itu kan mengoleksi, sedangkan cahaya mencerahkan,” sebut pria yang akrab disapa Vian itu.

Salah satu yang memukau dalam pameran tersebut adalah penampilan musik orkestra oleh siswa-siswi dari Sekolah Tiga Bahasa Rukun Harapan.

Begitu para siswa yang terdiri atas kelas satu hingga lima SD itu memainkan instrumen musik, para pengunjung yang hadir sontak mengangkat handphone masing-masing guna mengabadikan penampilan mereka.

“Di sini toleransi beragama terlihat begitu kental. Pemusiknya non muslim semua. Tapi, penonton yang berhijab ini benar-benar memberikan apresiasi yang tulus,” jelas Vian.

Hal yang tak kalah menarik adalah penampilan klub Teater Oksigen dari Unmuh Jember. Berbeda dari penampilan teater pada umumnya yang biasanya ditampilkan di atas panggung.

Teater ini berkonsep sosial eksperimen yang mana para penonton bahkan tak menyadari bahwa mereka terlibat dalam sebuah pertunjukan teater.

Dalam pertunjukan teater tersebut, para aktor teater berpura-pura sebagai ODGJ yang datang dan mengacaukan acara pameran.

Tujuannya adalah untuk melihat reaksi para pengunjung. Menguji seberapa peka kepedulian sosial mereka.

Terlihat para pengunjung yang berusaha membantu menghentikan kekacauan dengan tetap tidak menyakiti ataupun menyalahkan para ODGJ.

Sehingga dapat ditarik kesimpulan, kata dia, mayoritas warga, khususnya di Jember, memiliki kepekaan sosial dan rasa toleransi yang tinggi.

“Ada pengunjung perempuan yang terlihat pendiam. Tapi, begitu dia melihat ODGJ perempuan yang mengamuk, dia turut mencoba menenangkan ODGJ itu. Artinya, women support women itu tertanam di budaya bermasyarakat kita,” ucap Vian. (yul/c2/dwi)

Editor : Halo Jember
#perdamaian #seni #toleransi #seniman