HALOJEMBER.COM - Tari Karuwatan menjadi sajian dari Komunitas Teater Rayon Sastra (Teras) Universitas Jember (Unej) dalam pergelaran sarasehan budaya yang berlangsung di Pasar Lumpur Tanoker, Desa Sumberlesung, Kecamatan Ledokombo, Selasa, (13/8) lalu.
Tari tersebut adalah hasil akulturasi dua ragam budaya dan tradisi lokal, yaitu rokat dan ruwat.
Diketahui ruwat dan rokat merupakan tradisi masyarakat Jawa dan Madura, yang dilakukan orang tua terhadap anaknya sebelum menikah agar terhindar dari bala atau malapetaka.
Umumnya anak yang di-rokat atau di-ruwat adalah anak tunggal, tiga bersaudara perempuan, serta sepasang anak laki-laki dan perempuan.
Koreografer Tari Karuwatan, Larasati Dewi, mengatakan, tarian yang mencerminkan budaya lokal ini ditampilkan agar kelestarian budaya terus bergulir.
Dalam gerakannya, tarian ini menggambarkan keindahan dan keunikan tradisi rokat dan ruwat melalui gerak tari yang diiringi alunan musik tradisional.
“Meski dengan gerakan sederhana, namun dekat masyarakat,” jelasnya.
Disebutnya, koreografi tarian ini baru dipersiapkan dalam kurun waktu yang cukup singkat. Hanya lima hari. Karena itu, alur tarian lebih fokus pada esensi dari tradisi rokat dan ruwat.
“Saya hanya mencari esensialnya saja, karena tarian ini awalnya difokuskan untuk persiapan lomba Pekan Seni Mahasiswa Nasional,” imbuhnya.
BACA JUGA: Tanamkan Toleransi hingga Kepedulian Sosial, Gerakan Seniman Kampanyekan Perdamaian
Pada pergelaran Sarasehan Budaya itu, sastrawan dan dosen bidang sastra FKIP Universitas Jember (Unej), Dr Akhmad Taufiq, turut hadir menjelaskan tentang keanekaragaman ekspresi kultur masyarakat Indonesia yang memiliki nilai, baik secara spiritual maupun dalam sebuah karya seni.
“Bentuk ekspresi kultural masyarakat itu bermacam-macam. Bisa dalam bentuk ritual, tarian, relief, puisi, maupun prosa,” paparnya.
Dikatakan, eksistensi dari ruwatan adalah ingin membuang sial untuk seorang anak yang mempunyai hambatan-hambatan secara spiritual.
Dia menambahkan, pegelaran seni yang mengangkat tradisi setempat tentu sebagai bentuk pelestarian budaya.
Apalagi diekspresikan melalui karya seni tari dengan iringan instrumen tradisional.
“Harapan saya pegiat seni tidak hanya cukup pada sebuah pementasan saja. Namun, juga harus bisa terimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya. (dhi/c2/dwi)
Editor : Halo Jember