Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Sekolah Rusak di Jember, Bantuan Pemerintah Tak Kunjung Datang Terpaksa Lakukan Perbaikan Mandiri

Halo Jember • Selasa, 28 Januari 2025 | 15:00 WIB
JEBOL: Plafon di ruang kelas 3 SD Negeri Badean 02 banyak yang runtuh. Kegiatan belajar mengajar terhambat oleh rasa waswas. YULIO FA/RADAR JEMBER
JEBOL: Plafon di ruang kelas 3 SD Negeri Badean 02 banyak yang runtuh. Kegiatan belajar mengajar terhambat oleh rasa waswas. YULIO FA/RADAR JEMBER

HALOJEMBER - BANYAK sekolah yang terletak di daerah pinggiran atau pelosok sering kali luput dari perhatian. Salah satunya SD Negeri Badean 02, di Kecamatan Bangsalsari.

Kondisi sekolah ini cukup memprihatinkan. Beberapa ruang kelasnya tidak layak sebagai tempat belajar.

Mulai dari plafon yang jebol hingga bagian truss (rangka atap) yang mulai keropos dan berisiko runtuh sewaktu-waktu.

Hal ini menjadi kekhawatiran bagi para guru dan siswa saat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar (KBM).

Cara baru baca koran! Lebih Praktis dengan koran digital dan e-paper
Cara baru baca koran! Lebih Praktis dengan koran digital dan e-paper

Kepala SDN Badean 02 Ashari menjelaskan, terdapat setidaknya empat ruang yang mengalami kerusakan parah. Di antaranya adalah kelas 1 yang plafonnya sering berjatuhan, serta ruang perpustakaan, kelas 3, dan kelas 4 yang rangka atapnya keropos.

Dia dan para guru pun bergotong royong memasang penopang di ruang-ruang kelas tersebut agar tidak ambrol.

Meski demikian, Ashari tetap khawatir jika suatu saat atapnya benar-benar ambruk. “Kami khawatir jika saat KBM berlangsung, atap ambruk, kan guru yang akan bertanggung jawab,” ujarnya.

Ashari melanjutkan, tiga ruang yang rangka atapnya keropos merupakan bangunan yang terakhir kali direnovasi pada tahun 2003. Sementara, kelas lainnya terakhir direnovasi pada tahun 2015.

“Renovasi terakhir dilakukan pada 2015 Namun, saat itu tidak semua ruangan dapat direnovasi. Ada tiga ruang yang tidak direnovasi sejak 2003. Tetapi, tetap dipakai hingga sekarang,” kata mantan guru SDN Badean 03 itu.

Tak bisa mengandalkan bantuan dari pemerintah yang tak kunjung datang, Ashari mengaku terpaksa melakukan perbaikan secara mandiri dengan dana swadaya dari guru dan wali murid.

“Kami hanya bisa melakukan perbaikan tambal sulam sebagai solusi jangka pendek. Misalnya, pengecatan dinding, kami lakukan sendiri, dan dananya berasal dari swadaya guru serta sumbangan wali murid,” jelasnya.

Ashari juga menjelaskan, pihaknya telah berkali-kali mengajukan proposal perbaikan. Bahkan, pada Oktober tahun lalu, dia mendatangi langsung kantor Dispendik untuk menyerahkan proposal.

Namun, dia justru mendapatkan penolakan dengan alasan jumlah murid di SDN Badean 02 yang sedikit, sehingga tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan perbaikan.

“Saat kami mengajukan proposal ke Tim Sarana Prasarana Dispendik, langsung ditolak. Mereka bilang, sekolah yang bisa diperbaiki harus memiliki jumlah murid minimal 70, sementara di sini hanya ada 43 murid,” ujarnya.

Dia pun mengeluhkan keputusan tersebut. Menurutnya, hal itu tidak adil, terutama bagi siswa yang berhak mendapatkan pendidikan yang layak, tapi kurang mendapatkan perhatian.

“Pihak dinas mengatakan, jika jumlah murid kurang dari 70, perbaikan harus diajukan ke APBD. Namun, tidak ada jaminan sekolah kami akan mendapatkan perhatian. Lalu, harus nunggu sampai kapan? Apa harus menunggu ambruk dulu baru diperbaiki?” ungkapnya kecewa. (yul/c2/nur)

Editor : Halo Jember
#sekolah rusak #jember #pemerintah #KBM