HALOJEMBER - Dampak penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak sapi di Jember, cukup menjadi pukulan telak bagi masyarakat. Terutama peternak dan pedagang sapi.
Sebab, serangan PMK tak hanya membuat harga sapi terjun bebas. Namun, juga menurunkan omzet, dan daya beli sapi lesu di pasaran.
"Rusak harganya sekarang. Ga berani bawa banyak. Biasanya dua sampai tiga ekor, sekarang satu saja," ucap Yosi, pedagang sapi di Pasar Hewan Rowotamtu, Rambipuji.
Hal serupa diutarakan Fathur Rohman, pedagang sapi asal Kertosari, Pakusari. Ia juga terpaksa mengurangi stok sapi karena tak ingin dirundung buntung.
"Khawatir sewaktu-waktu tambah rusak harganya. Jadi, ga berani nyetok banyak," akunya.
Sebagai informasi, pekan lalu, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Jember mencatat, 1.031 ekor ternak terinfeksi PMK, dan 78 di antaranya dilaporkan mati.
Meski sejumlah anggota dewan sempat menyerukan ditetapkannya status kejadian luar biasa (KLB), namun penutupan pasar hewan belum menjadi opsi pemerintah daerah.
Anggota Komisi B DPRD Jember Agus Khoironi mengatakan, seharusnya penutupan pasar hewan sementara menjadi solusi dan harus dilakukan.
“Satu-satunya jalan untuk memutus peredaran PMK adalah penutupan pasar hewan. Supaya PMK tidak menyebar ke seluruh Jember,” ujarnya.
Meski jumlah sapi yang dilaporkan sakit tidak sebanyak pada 2022, tapi menurutnya angkanya cukup tinggi di Jawa Timur.
Bahkan, sejumlah daerah dengan kasus lebih sedikit daripada Jember justru berani melakukan penutupan pasar hewan. Seperti Situbondo, Lumajang, Blitar, dan Pacitan.
“Saya kan juga banyak masukan dari teman-teman pedagang sapi supaya pasar hewan sementara ditutup,” ungkapnya. (mau/c2/dwi)
Editor : Halo Jember