Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Suwar Suwir

Asal Mula Munculnya Budaya Pandhalungan Jember, Ternyata Gara-gara ini

Halo Jember • Jumat, 7 Februari 2025 | 16:35 WIB

Kesenian Tabutaan khas Jember
Kesenian Tabutaan khas Jember

HALOJEMBER - Jember merupakan daerah kabupaten yang terletak di Jawa Timur, Indonesia. Wilayah ini memiliki keunikan, termasuk masyarakatnya, makanan maupun budayanya.

Pandhalungan adalah sebutan bagi Jember, karena budayanya yang bercampur antara Jawa dengan Madura. 

Baca Juga: Memahami Seni Seorang Guru, Maksimalkan Ketrampilan dan Inovasi dalam Metode Mengajar

Mayoritas daerah Jember adalah Budaya Madura yang memang lebih terasa ketimbang budaya Jawa. Namun, terdapat beberapa daerah Jember yang budayanya lebih dekat ke arah Jawa.  Secara geografi kultural, Jember terbagi dengan dua bagian tetapi bukan berarti terpisah.

Cara baru baca koran! Lebih Praktis dengan koran digital dan e-paper
Cara baru baca koran! Lebih Praktis dengan koran digital dan e-paper

Pembagian tersebut tidak hanya mempengaruhi sejarah dan demografinya saja, tetapi menunjukkan perbedaan dalam bahasa dan budayanya.

Jember bagian selatan memang cenderung dalam keturunan etnis Jawa Mataraman, sedang Jember di bagian utara sebagian besarnya dikuasai etnis Madura. 

Baca Juga: Waspada Tanah Longsor Saat Musim Hujan, Kenali Ciri-cirinya

Wilayah Jember selatan diantaranya, Puger, Ambulu, Wuluhan, Balung dan sekitarnya. Sedangkan Jember bagian utara diantaranya meliputi wilayah Kalisat, Arjasa, Sumbersari, Patrang dan sekitarnya.

Perbedaan ini, akhirnya menimbulkan bahasa yang digunakan sangat berbeda dalam kesehariannya, walaupun masih dalam wilayah yang sama secara administratif.

Baca Juga: Siswa SDN Plalangan 03 Belajar di Tenda Darurat Gara-gara Ruang Kelas Ambruk, Dua Tenda untuk Empat Kelas

Apabila disatukan dalam melakukan komunikasi, mereka bisa saja terlihat asing, walaupun masih dalam satu daerah.

Munculnya Kedua Budaya di Jember 

Ternyata, campuran budaya ini memiliki cerita yang unik sebelumnya. Saat masa kolonial, tepatnya di 21 Oktober 1859, Belanda mendirikan sebuah perusahaan tembakau. Kita mengetahui bahwa Jember termasuk salah satu penghasil tembakau terbaik di Indonesia.

Nama perusahaan tembakaunya adalah NV Landbouw Maatschappij oud Djember (LMOD), perusahaan ini dipimpin oleh George Bernie di Jember.

Tak hanya satu, terdapat beberapa perusahaan tembakau lain seperti NV Cultuur Maatschappij Tabak Soember Djeroek, NV Cultuur Maatschappij Iuid Djember, Soekokerto Handel Maatschappij, dan lain-lain. 

Akibat dari banyaknya perusahaan jenis perkebunan dibangun di Kabupaten Jember, arus migrasi meningkat.

Sebelumnya, para pekerja Madura lebih awal datang dan menjadi pekerja kasar, dengan mengajak saudaranya untuk berpindah ke Jember, di tahun 1870.

Akhir abad 19, masyarakat Jawa pun mulai berdatangan. Masyarakat Jawa yang datang dan berencana menetap di Jember, adalah masyarakat yang berasal dari daerah padat penduduk, dan kondisi alam asal mereka tinggal kurang baik.

Seperti, Bojonegoro, Nganjuk, Kediri, bahkan dari daerah Jogja dan Surakarta juga turut berdatangan untuk menetap di Jember.

Dikutip dari berkas arsip Volkstelling 1930 deel VII-Sejak tahun 1930, migran asal Jogja yang pindah ke arah Karesidenan Besuki, dimana termasuk Jember didalamnya, mencapai 15.796 orang. Mereka menetap di bagian selatan hingga membentuk budayanya di sana juga.

Berkembangnya kedua masyarakat dengan perbedaan secara kultural ini membawa kolaborasi Pandhalungan. Kata Pandhalungan berasal dari istilah Jawa berupa dhalung yang memiliki arti periuk besar dari logam.

Makna yang diambil dari kalimat tersebut adalah, Kabupaten Jember menjadi kawasan besar, yang mampu menampung dua maupun lebih kelompok etnik, dan juga melahirkan budaya baru. 

Situasi tersebut mampu menjelaskan bahwa terjadi kompleksitas dinamika kultural di Jember. Perbedaan budaya bisa menjadi pemisahan yang cukup signifikan, walaupun terletak dalam wilayah yang sama.

Setiap sudut Kabupaten Jember yang beragam, masing-masing memiliki cerita unik dan budayanya sendiri. Keunikan ini, tentu salah satu bagian yang perlu untuk dijaga, dikembangkan dan dihargai sampai nanti. 

 

Penulis : Syahidah Dina Ilmasya

Editor : Halo Jember
#jember #budaya #Pandhalungan