Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Perkebunan Jadi Jejak Sejarah Masyarakat Jember, Sebuah Jati diri dan Tanggung Jawab Kehidupan

Halo Jember • Senin, 24 Februari 2025 | 15:00 WIB

 

BERI PAPARAN: Antropolog dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XI Jawa Timur, Sukmono Fajar Turido, membedah perkembangan perkebunan di Jember dalam diskusi Series Membaca Kenangan.
BERI PAPARAN: Antropolog dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XI Jawa Timur, Sukmono Fajar Turido, membedah perkembangan perkebunan di Jember dalam diskusi Series Membaca Kenangan.

HALOJEMBER - Lanskap Jember terdiri atas puluhan perkebunan. Tersebar di sejumlah kecamatan. Lewat perkebunan itulah jejak sejarah budaya masyarakat Jember ditelusuri.

Antropolog dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XI Jawa Timur, Sukmono Fajar Turido, menyebutkan, Jember sebagai wilayah perkebunan.

Hal itu diketahui dari salah satu bukti sejarah berupa Candi Deres di Desa Purwoasri, Kecamatan Gumukmas, hingga masa kerajaan pada masa klasik.

Pada era kolonial Belanda, ada migrasi para pekerja dari luar daerah menuju Jember. Bahkan, area perkebunan di Jember juga menjadi penyangga ekonomi kolonial pada 1800-an.

Komoditas yang dijalankan pada masa itu juga masih ada sampai saat ini. Di antaranya karet, kopi, kakao, tebu, dan tembakau.

Cara baru baca koran! Lebih Praktis dengan koran digital dan e-paper
Cara baru baca koran! Lebih Praktis dengan koran digital dan e-paper

Menurutnya, ada banyak memori kolektif yang berserak di wilayah perkebunan Jember. Ini menjadi bagian dari proses identitas masyarakatnya.

"Memori kolektif merupakan produk budaya sebagai penanda eksistensi atau identitas kolektif. Memiliki peran, pesan, dan makna," katanya saat mengisi Diskusi Series Membaca Kenangan di Sudut Kalisat, Sabtu (22/2) malam.

Mengenal Jember sebagai kota perkebunan, kata dia, berarti memahami bahwa perkebunan juga bisa menjadi ruang mengarsipkan memori kolektif dan arena napak tilas sejarah.

Ada ruang belajar sosial budaya dengan dampak besar di baliknya.

"Mitigasi kebun misalnya, mitigasi bencana bisa berjalan partisipatif dengan warga dan satu sama lain tidak akan merasa dieksploitasi. Antara pengelola kebun, buruh, warga sekitar," paparnya.

Fajar menuturkan, kebun bisa menjadi ruang berbagai eko-kultural melalui partisipasi dan kolaborasi korporasi.

Nilai konservasinya yang tinggi membuat pelaku maupun komunitas budaya harus turut ambil peran. "Kebun bukan lagi wilayah yang tertutup dan aksesnya jauh," katanya.

Sebagai sebuah daerah perkebunan, menurutnya, perkebunan juga  mampu menguatkan jati diri warga Jember.

Dia menilai, perkebunan bisa memegang tanggung jawab atas kehidupan dengan menerima dari masa lalu dan memberi kepada masa depan. (sil/c2/dwi)

Editor : Halo Jember
#sejarah #jember #perkebunan