HALOJEMBER - Keberagaman tradisi spiritual yang dimiliki Indonesia, khususnya Kota Suwar-Suwir, kembali tuai pujian di negara tetangga.
Dalam sebuah pertemuan yang penuh keharmonisan, jajaran pengasuh Pondok Pesantren Al-Qodiri Jember, yang dipimpin oleh KH Taufiqurrohman Muzakki Syah bersama istri, Hj Lutfi Helmiyatin, dan menantunya, Gus Teddy Agusta Syaifullah, diterima dengan hangat oleh Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, di Kompleks Seri Perdana, Malaysia, pada Senin (24/2) lalu.
Kehadiran para ulama dari Ponpes Al-Qodiri itu merupakan sebuah respons terhadap undangan resmi dari Perdana Menteri Anwar Ibrahim.
Dalam pertemuan yang penuh dengan nilai ukhuwah dan kebersamaan itu, Anwar Ibrahim menyampaikan rasa terima kasih atas penyebaran tradisi zikir Syech Abdul Qodir Jaelani atau yang rutin dilaksanakan oleh masyarakat Indonesia, khususnya melalui Ponpes Al-Qodiri.
Menurutnya, ajaran zikir dan salawat itu memiliki pengaruh positif yang sangat besar dalam menjaga keharmonisan umat beragama di Malaysia.
Anwar Ibrahim juga mengungkapkan bahwa ajaran Manaqib Syech Abdul Qodir Jaelani sangat relevan dalam memperkuat semangat nasionalisme dan kebangsaan di Malaysia.
“Tradisi zikir ini dikenal dengan keikhlasan dan kedamaian. Dapat menjadi sarana yang sangat ampuh untuk menyatukan umat,” katanya, dengan sapaan hangat.
Mengingat beberapa waktu lalu, tepatnya pada momentum perpolitikan di Malaysia, hubungan sesama umat muslim di Negeri Jiran itu mengalami guncangan.
Namun, kuatnya penyebaran zikir dan salawat manaqib yang diinisiasi oleh KH Muzakki Syah, ayah kandung KH Taufiqurrohman Muzakki Syah, seolah memberi warna baru kepada warga Malaysia untuk dapat memprioritaskan nilai-nilai nasionalisme dan persatuan.
Pada kesempatan itu, KH Taufiqurrohman Muzakki Syah menyampaikan, pondok pesantren yang dipimpinnya memiliki tujuan untuk melestarikan ajaran-ajaran Syech Abdul Qodir Jaelani dengan pendekatan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Kami ingin agar ajaran zikir dan salawat ini tidak hanya menjadi tradisi spiritual. Tetapi, juga menjadi bagian dari upaya menjaga kedamaian dan kebersamaan kepada masyarakat di Malaysia,” ujarnya.
Dibantu oleh jajaran kepengurusan Nahdlatul Ulama (NU) di Malaysia, khususnya Haji Hairul Umam bin Mohit, yang merupakan santri dari KH Taufiqurrohman, diharapkan dapat terus rutin menebarkan kegiatan salawat dan zikir di seluruh pesantren di Malaysia. Sehingga persatuan dan nilai nasionalismenya bisa tertanam sejak dini. (dhi/c2/dwi)
Editor : Halo Jember