HALOJEMBER - Bulan Ramadan menjadi momen penuh berkah bagi umat Muslim, termasuk bagi mahasiswa rantau yang jauh dari keluarga.
Salah satu kebiasaan unik yang terjadi setiap tahunnya adalah berburu makanan buka puasa gratis di masjid.
Fenomena ini banyak ditemukan di sekitar kampus Universitas Jember (UNEJ), di mana mahasiswa rantau memanfaatkan kebaikan masjid-masjid yang menyediakan takjil dan makanan buka puasa secara gratis.
Salah satu mahasiswa rantau, Andi (21), mengaku sudah sejak awal kuliah mengikuti tradisi ini. “Sebagai anak kos, mencari buka puasa gratis di masjid itu sangat membantu. Selain menghemat pengeluaran, suasana di masjid juga bikin nyaman karena bisa berbuka bersama teman-teman,” ujarnya saat ditemui di Masjid Al-Falah dekat kawasan kampus.
Masjid-masjid di sekitar kampus memang rutin menyediakan makanan berbuka puasa gratis bagi siapa saja yang ingin menikmatinya.
Ketua DKM Masjid Al-Falah, Ustaz Rahman, menyebutkan bahwa program ini sudah berlangsung bertahun-tahun berkat donasi dari jamaah dan masyarakat sekitar.
“Kami tidak hanya ingin membantu mereka yang kurang mampu, tetapi juga menciptakan suasana Ramadan yang penuh kebersamaan,” jelasnya.
Selain sebagai upaya menghemat pengeluaran, fenomena ini juga mencerminkan solidaritas di kalangan mahasiswa rantau.
Beberapa mahasiswa bahkan berbagi informasi mengenai lokasi-lokasi masjid yang menyediakan buka puasa gratis melalui grup media sosial.
“Kadang kami berbagi info di grup WhatsApp dan Instagram. Kalau ada masjid yang menyediakan menu lengkap, pasti banyak yang datang,” kata Dini (20), mahasiswa asal Banyuwangi.
Dari sisi ekonomi, berburu makanan gratis ini juga menjadi strategi bertahan hidup bagi mahasiswa yang mengalami keterbatasan finansial.
Menurut dosen Sosiologi UNEJ, Dr. Rudi Santoso, kebiasaan ini bukan semata-mata soal mencari makan gratis, tetapi juga mencerminkan bagaimana mahasiswa rantau beradaptasi dengan kondisi yang ada.
“Ini adalah bagian dari survival mahasiswa. Mereka memanfaatkan sumber daya yang tersedia dengan tetap menjaga nilai sosial dan kebersamaan,” terangnya.
Meski begitu, beberapa mahasiswa mengaku tetap berusaha untuk tidak bergantung sepenuhnya pada makanan gratis di masjid.
“Kalau ada rezeki lebih, ya tetap beli makanan sendiri atau bahkan ikut berdonasi ke masjid. Jadi, kita juga ikut berbagi,” tambah Andi.
Tradisi berburu makanan buka puasa gratis ini pun menjadi bagian dari warna Ramadan di kalangan mahasiswa rantau.
Selain membantu meringankan beban keuangan, kebiasaan ini juga mempererat hubungan antar sesama mahasiswa dan komunitas sekitar.
Ramadan bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang berbagi dan kebersamaan yang terus hidup di setiap tahunnya.
Penulis: MG25 Anik Kholifatul Imania
Editor : Halo Jember