KH Muchit Muzadi, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Muchit, merupakan seorang ulama yang dikenal luas oleh kalangan nahdliyin. Ia merupakan seorang alim, aktivis, dan ensiklopedis yang memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan Nahdlatul Ulama (NU) di Kota Suwar-Suwir. Kepandaiannya dalam bidang akademisi banyak meninggalkan jejak dengan karya buku yang cukup populer.
M ADHI SURYA - Sumbersari, Radar Jember
NAMA Mbah Muchit bukan sekadar nama biasa. Ia menjadi tokoh yang memiliki andil besar dalam memperkokoh NU. Terutama dalam pengajaran titah NU yang menjadi landasan gerakan tersebut. Salah satu momen penting dalam sejarah NU adalah saat penguatan khittah NU pada tahun 1984. Mbah Muchit turut menjadi salah satu pengawal utama dalam mempertahankan ideologi dan arah gerakan NU di Jember.
Meski tidak pernah menduduki posisi puncak dalam struktur organisasi NU, seperti Rais Aam atau Ketua Umum NU, kepiawaian Mbah Muchit dalam dunia intelektual dan perjuangannya menjaga ajaran-ajaran NU yang membuatnya sangat dihormati.
Mbah Muchit lebih memilih untuk berperan di belakang layar. Memberikan kontribusi nyata lewat pengajaran, penulisan, dan aktivitas sosial yang memberi dampak luas bagi umat.
Salah satu aspek yang membuat Mbah Muchit dikenang hingga saat ini adalah banyaknya karya-karya tulis yang dihasilkannya. Ia dikenal sebagai seorang ensiklopedis yang produktif. Buku-bukunya yang telah diterbitkan menjadi referensi penting, baik di kalangan akademisi maupun masyarakat umum.
Karya-karya tersebut menunjukkan kedalaman ilmu dan pemikirannya yang luas dalam berbagai bidang. Terutama di bidang fikih dan pemikiran keagamaan.
Putra Mbah Muchit, Alfian Futuhul Hadi, menceritakan, hingga saat ini dirinya masih menyimpan sekitar enam buku karya ayahandanya. Buku-buku tersebut menjadi bukti nyata dedikasi Mbah Muchit dalam menyebarkan ilmu agama. Selain itu, ada banyak buku lain yang ditulis oleh tokoh-tokoh menceritakan kiprah Mbah Muchit dalam tubuh organisasi NU. Baik di tingkat lokal maupun nasional.
“Tapi masih ada banyak tulisan beliau yang belum dicetak dan diterbitkan,” ucapnya.
Baca Juga: Ketika Gus Dur Bertanya Tentang Indonesia ke Gus Miek
Salah satu buku yang paling populer dan menjadi rujukan hingga kini adalah Risalah Fikih Wanita. Buku itu pertama kali diterbitkan pada tahun 1979 yang mengupas berbagai aspek fikih terkait peran perempuan dalam masyarakat. Buku tersebut bahkan dicetak ulang oleh Khalista Surabaya pada tahun 2005, yang menunjukkan betapa relevansinya karya Mbah Muchit di tengah perkembangan zaman.
Mbah Muchit juga dikenal sebagai sosok yang memiliki dedikasi tinggi terhadap pendidikan. Ia berperan aktif dalam mengajarkan ajaran-ajaran NU kepada generasi muda. Terutama di pesantren-pesantren yang ada di Kota Suwar-Suwir.
Hal ini tidak hanya memperkuat pemahaman tentang ajaran NU. Tetapi, juga mengajarkan nilai-nilai keislaman yang moderat dan toleran, sesuai dengan prinsip-prinsip yang diajarkan oleh NU.
Dalam dunia akademik, nama Mbah Muchit tetap hidup, terutama di universitas-universitas yang banyak mengkaji pemikiran-pemikiran beliau. Universitas Jember (Unej), Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, dan Universitas Islam Jember (UIJ) adalah beberapa tempat yang menjadikan pemikiran Mbah Muchit sebagai salah satu bahan kajian utama dalam disiplin ilmu agama dan sosial.
Mbah Muchit telah meninggalkan warisan intelektual yang masih diteruskan oleh para mahasiswa dan akademisi yang mengagumi karyanya. (c2/dwi)
Editor : Dwi Siswanto