Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Cerita Ponpes Assunniyyah Kencong sejak Pra-Kemerdekaan, Ayah Gus Ghonim KH Djauhari yang Berkelana dan Menetap di Kencong Jember

Dwi Siswanto • Selasa, 1 April 2025 | 04:00 WIB

 

 

Pengasuh Pesantren Assunniyyah Kencong Jember Gus Ghonim berziarah dan berdoa di samping pusara sang ayah, KH Djanuari, yang berada satu kompleks dengan pesantren. (MEGA SILVIA/RADAR JEMBER)
Pengasuh Pesantren Assunniyyah Kencong Jember Gus Ghonim berziarah dan berdoa di samping pusara sang ayah, KH Djanuari, yang berada satu kompleks dengan pesantren. (MEGA SILVIA/RADAR JEMBER)

 

EKSISTENSI Ponpes Assunniyyah Kencong hingga saat ini tak akan lepas dari pendirinya, KH Djauhari yaitu ayah Gus Ghonim. Tokoh Islam penting di Jember yang berasal dari Desa/Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Apabila ditarik dalam satu garis keturunan, Djauhari yang merupakan putra dari KH Zawawi masih satu trah dengan KH Achmad Siddiq. Keturunan kesembilan dari Sayid Abdurrahmah Ba Syaiban alias Mbah Sambu dari Lasem.

Djauhari kecil yang lahir pada 1911 telah menampakkan keuletannya dalam belajar. Masa-masa remajanya pun selalu disibukkan dengan mengaji dan menghafal kitab serta Alquran. Seolah punya ghirah kuat dalam setiap prosesnya mempelajari ajaran Islam.

“Beliau diberi futuh oleh Allah untuk memahami apa pun yang ia pelajari. Bahkan meski sedang tidur saat pengajian,” ungkap Ahmad Ghonim Jauhari, putra bungsu KH Djauhari.

Pengembaraan ilmu Djauhari tak sebatas di desanya. Pernah nyantri di beberapa pesantren di Jawa Tengah. Satu di antaranya pesantren di Sarang. Mengaji langsung dengan KH Umar, KH Syu’aib, KH Imam, dan KH Zubair yang kini adalah besannya dari putranya, Sadid Jauhari.

Penghargaannya terhadap ilmu yang merupakan karunia Allah dan warisan para nabi dan rasul membuatnya pernah merelakan menjual keris sangkolan, pusaka pemberian sang ayah untuk bekal mondok.

Djauhari bak selalu haus ilmu dan tak cukup dari satu sumber. Pencariannya dilanjutkan ke Pesantren Tebuireng Jombang dan berguru langsung kepada KH Hasyim Asy’ari.

Saat itu, bekalnya hanyalah nasi kerak dengan pakaian seadanya. Hanya niat kuat yang membuatnya tak pernah ragu. Dua tahun dia nyantri di Tebuireng sebelum akhirnya mendirikan madrasah bersama KH M Yasin di Probolinggo dan KH Nawawi.

Pada satu waktu, Djauhari yang telah menikah pernah merasakan semacam kegalauan luar biasa pasca-bercerai. Lantas, membuatnya memutuskan untuk pergi ke Tanah Suci untuk haji sekaligus melanjutkan pencarian ilmunya dengan sejumlah ulama Makkah. Sementara, tonggak perjuangannya di madrasah tersebut diamanahkan kepada sang adik.

Singkatnya, ketika berada di Tanah Haram takdir mempertemukan Djauhari dengan Ridwan, yang memperkenalkannya kepada saudaranya di Kencong, Jember, yang kelak dinikahinya sebagai pelabuhan hati yang terakhir.

Kembali ke Tanah Air, Djauhari pun telah bulat untuk menetap di Kencong pasca-menikah pada 1942. Mendirikan majelis ilmu di sebuah langgar wakaf seorang kiai bernama Sholihi. Inilah yang merupakan cikal bakal berdirinya Pesantren Assunniyyah yang sekarang.

Kegigihannya sejak masa remaja pun berulang kali diuji selama mengasuh Assunniyyah (seperti yang telah diceritakan di seri 1, kemarin). Gus Ghonim menceritakan, ayahnya itu pernah dipercaya pengurus NU Kencong untuk menyampaikan bahwa perampasan hasil tani rakyat atas nama zakat oleh penjajah Jepang itu tidaklah benar. Dengan keberaniannya dan penuh keyakinan, masyarakat Kencong mempercayainya.

Meski juga pernah menjadi buronan tentara Belanda sehingga harus berpindah-pindah tempat, Djauhari pun tak pernah gentar.

Djauhari pernah menjadi Rais Syuriah PCNU Kencong pada 1950. Terpilihnya di Pesantren KH Abdullah Yaqin Mlokorejo, merupakan kali pertama pasca-Indonesia merdeka secara de facto dan de jure. “Beliau sangat loyal terhadap salah satu organisasi keagamaan terbesar di Indonesia itu,” kata Gus Ghonim.

Wafatnya pada 20 Juli 1994 menjelang Magrib mengundang kesedihan banyak orang. Ribuan pelayat turut menyalatkan dan mengantarkannya ke taman surga. Pesantren Assunniyyah adalah warisan terbesarnya kepada sang istri dan empat putranya.

Gus Ghonim, yang juga kini menjadi pengasuh pesantren tersebut, mengatakan, sang ayah adalah sosok yang sangat sederhana dalam hidupnya. Djauhari adalah pebisnis ulung, jual beli kuda, yang kalau zaman sekarang seperti mobil, hingga ke luar daerah.

Tentu kekayaannya tidaklah sedikit. Namun, kesederhanaanlah yang selalu ditanamkan kepada anak-anaknya. “Aku rela hidup sederhana agar anak-anakku berjuang di masyarakat tidak kesusahan ekonomi,” katanya menirukan pesan sang ayah.

Sampai kini, makamnya yang berada di dalam kompleks Pesantren Assunniyyah masih sering dikunjungi para peziarah warga lokal hingga dari berbagai daerah.

Sementara, peziarahnya terbatas kalangan laki-laki dan masih dalam proses tempat khusus untuk peziarah perempuan. (c2/nur)

Editor : Dwi Siswanto
#Lasem #Kencong #rembang #gus ghonim #Ponpes Assunniyyah Kencong