Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

CERITA Syekh Mohammad Noer Panti Jember yang Mendirikan Ponpes di Tengah Penjajahan Belada 

Dwi Siswanto • Selasa, 1 April 2025 | 17:20 WIB

 

BERDOA: Keturunan Syekh Mohammad Noer, Mahfud Ahsan berada di makam Mbah Yai Mohammad Noer, di Desa Kemuningsari Lor, Kecamatan Panti, (M ADHI SURYA/RADAR JEMBER)    
BERDOA: Keturunan Syekh Mohammad Noer, Mahfud Ahsan berada di makam Mbah Yai Mohammad Noer, di Desa Kemuningsari Lor, Kecamatan Panti, (M ADHI SURYA/RADAR JEMBER)  
 Syekh Mohammad Noer seorang tokoh ulama yang dikenal luas oleh masyarakat di Jember, bahkan hingga ke luar daerah seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan negara tetangga Malaysia dan Brunei. Setiap tahun, banyak yang hadir untuk memperingati haul karomahnya tanggal 26 Bulan Maulid atau Robiul Awal.

 

M ADHI SURYA, KEMUNINGSARI LOR - Radar Jember - Halo Jember

 KETURUNAN Syekh Mohammad Noer, Mahfud Ahsan mengatakan, Mbah Yai sapaan Syekh Mohammad Noer itu terlahir pada tahun 1808 dengan nama kecil Abubakar di Desa Patalagan, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Pada masa kelahirannya, Indonesia sedang menderita di bawah penjajahan Belanda di bawah Gubernur Jenderal Mr. Herman Willem Daendels. Sejak kecil, Mohammad Noer sudah menunjukkan kecerdasan luar biasa yang membuatnya disegani oleh teman-temannya dan gurunya.

“Meski lulus hanya hingga kelas III di pendidikan formal, beliau tetap mengembangkan ilmu pengetahuannya di berbagai pesantren,” jelasnya.

Pendidikan Syekh Mohammad Noer sangat dipengaruhi oleh ibunya, Nyai Biang Zainal, yang mengirimnya ke beberapa pesantren setelah ayahnya meninggal pada tahun 1829. Di antaranya adalah Pondok Pesantren Balerante di Desa Balerante, Cirebon, yang diasuh oleh Kiai Damsuki, seorang pengamal Tarekat Sattariyah.

Melalui pengajaran dari berbagai ulama besar, beliau akhirnya mendapatkan gelar Waliyullah Quthubul Ghouts setelah melaksanakan Kholwah Suluk Mujahadah selama sembilan tahun.

Pada tahun 1868, setelah cukup lama mengabdi kepada KH Abdullah Faqih, Syekh Mbah Yai melanjutkan perjalanan ke timur. Dengan izin dan restu gurunya, beliau berjalan kaki melalui Probolinggo, Klakah, Sumberbaru, hingga akhirnya sampai di Desa Petung, Kecamatan Bangsalsari, Jember.

Di desa ini, beliau singgah dan bermalam di rumah Kiai Dul, seorang tokoh yang juga berasal dari Cirebon.

Kedatangan Syekh Mohammad Noer ke Desa Kemuningsari Lor pada tahun 1870 an ini merupakan kunjungan yang keduakalinya, beliau disambut dengan hangat oleh Kepala Desa Hasan Muhyi dan keluarganya, bahkan dinikahkan dengan putrinya karena jasanya telah membantu polemik di Desa ini pada kunjungan pertamanya.

Dua tahun setelah pernikahannya dengan Kasmirah pada tahun 1872, Syekh Mohammad Noer diberi tugas sebagai carik atau sekretaris desa. Namun, tak lama kemudian beliau mengundurkan diri dan mulai fokus merintis pendirian sebuah pondok pesantren.

Dengan membeli sebidang tanah seluas 13 hektar yang masih berupa hutan dan dihuni binatang liar. Tanah tersebut terkenal angker, namun dengan ketekunan dan kesabarannya, beliau membersihkannya dan membangun sebuah rumah sederhana yang menjadi cikal bakal pesantren.

Ketekunan beliau dalam membangun kawasan tersebut berbuah manis. Seiring berjalannya waktu, kawasan itu semakin teratur, dipenuhi oleh tanaman buah-buahan, dan kolam ikan warna-warni yang menarik banyak pengunjung.

Aktivitas bercocok tanam juga turut meningkatkan kesejahteraan keluarga beliau. Pada tahun 1900, beliau mendirikan sebuah surau yang digunakan untuk sholat berjamaah dan mengaji oleh masyarakat sekitar.

Seiring bertambahnya jumlah santri, langgar yang didirikan beliau tak lagi cukup untuk menampung mereka. Oleh karena itu, beliau memperbesar langgarnya menjadi sebuah masjid yang lebih besar.

Tak hanya itu, beliau juga membangun jembatan untuk memudahkan akses transportasi dan lalu lintas jemaah. Semakin banyak orang yang datang, baik dari daerah Jember, Banyuwangi, Bondowoso, hingga luar daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, dan bahkan Sumatera.

“Dengan semakin berkembangnya pesantren, beliau juga membangun pondok atau penginapan untuk menampung tamu dan santri yang datang untuk menuntut ilmu,” pungkasnya. (nur)

Editor : Dwi Siswanto
#mendirikan ponpes #jember #Penjajah Belanda #Syekh Mohammad Noer Panti Jember #Panti