Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Cerita Syekh Mohammad Noer Panti Jember yang Mendirikan Ponpes Nahdlatul Arifin

Dwi Siswanto • Selasa, 1 April 2025 | 16:45 WIB

 

 

ASRI: Suasana sederhana Pondok Pesantren Nahdlatul Arifin yang terletak di Desa Kemuningsari Lor, Kecamatan Panti. (M ADHI SURYA/RADAR JEMBER)
ASRI: Suasana sederhana Pondok Pesantren Nahdlatul Arifin yang terletak di Desa Kemuningsari Lor, Kecamatan Panti. (M ADHI SURYA/RADAR JEMBER)

Ponpes Nahdlatul Arifin atau yang lebih dikenal dengan nama Pesantren Syekh Haji Mohammad Noer merupakan salah satu pesantren tua di Kota Tembakau. Lokasinya di Desa Kemuningsari Lor, Kecamatan Panti, di lereng Gunung Argopuro yang memesona.

 M ADHI SURYA, KEMUNINGSARI LOR PANTI - Radar Jember - Halo Jember

 BANGUNAN pesantren yang sederhana tapi memiliki karisma besar ini masih menjaga keaslian sebagai pesantren tradisional. Sekaligus menjadi saksi sejarah perjuangan dakwah para ulama di masa penjajahan Belanda. Pesantren yang didirikan oleh Syekh Haji Mohammad Noer, yang akrab dipanggil Mbah Yai, pada masa penjajahan Belanda, hingga kini tetap mempertahankan kekhasan dan kesederhanaannya.

Meskipun tidak dilengkapi dengan fasilitas modern yang biasa ditemukan di pondok pesantren masa kini, aura keislaman yang kental terasa di seluruh penjuru pesantren ini.

Syekh Haji Mohammad Noer, meski tidak langsung mengangkat senjata dalam melawan penjajahan, turut serta dalam jihad fi sabilillah dengan cara berdakwah dan memerangi kebatilan dengan amar makruf nahi mungkar.

Keturunan Syekh Haji Mohammad Noer, Mahfud Ahsan, menyebutkan, Pesantren Nahdlatul Arifin masih menjaga kemurnian sebagai pesantren salaf yang beraliran moderat. Pesantren ini tidak eksklusif, melainkan terbuka bagi semua kalangan, sambil tetap berpedoman pada paham Ahlussunnah wal Jamaah.

“Hal ini menjadi dasar bagi pesantren untuk terus berkembang. Namun, tetap berpegang teguh pada nilai-nilai tradisional yang diajarkan oleh pendirinya,” tuturnya.

Sejak mengundurkan diri dari jabatannya sebagai sekretaris desa antara tahun 1872-an, Syekh Haji Mohammad Noer memulai perjuangan membangun pondok pesantren. Langkah pertama yang diambil adalah membeli sebidang tanah seluas 13 hektare yang sebelumnya merupakan hutan lebat yang dihuni oleh binatang buas.

Tanah tersebut juga terkenal angker, sehingga banyak yang ragu untuk menempatinya. Namun, dengan ketekunan dan keyakinan yang kuat, Syekh Haji Mohammad Noer membersihkan lahan tersebut dan mendirikan sebuah rumah sederhana. Berfungsi sebagai tempat tinggal sekaligus tempat ibadah.

Berbagai kesulitan dan tantangan tidak membuat Syekh Haji Mohammad Noer surut. Dengan semangat juang yang tinggi, dia mulai merawat lahan tersebut. Menanam berbagai jenis buah-buahan, dan membuat kolam ikan yang kini menjadi daya tarik pengunjung.

Tidak hanya itu, dia juga berhasil membangun surau kecil yang digunakan untuk tempat ibadah dan mengaji bagi anak-anak setempat. “Lambat laun, surau ini semakin ramai dengan santri yang datang belajar,” imbuhnya.

Melihat jumlah santri yang semakin meningkat, Syekh Haji Mohammad Noer memutuskan untuk memperbesar surau tersebut menjadi sebuah masjid. Sekaligus membangun pondok atau penginapan untuk menampung santri dari berbagai daerah. Pesantren ini pun mulai dikenal luas. Tidak hanya di Jember, tetapi juga di luar daerah seperti Banyuwangi, Bondowoso, hingga wilayah Jawa Tengah dan Sumatera.

Pada awal abad ke-20, pesantren ini berkembang pesat, seiring dengan meningkatnya jumlah santri dan semakin banyaknya masyarakat yang datang untuk menuntut ilmu. Wilayah sekitar pondok pun semakin maju, dengan adanya jembatan yang memudahkan akses transportasi dan lalu lintas jemaah.

Keberadaan pesantren ini juga memberikan dampak positif terhadap kehidupan ekonomi keluarga Syekh Haji Mohammad Noer, yang semakin berkembang melalui kegiatan bercocok tanam yang mendukung kebutuhan pesantren.

Pesantren Nahdlatul Arifin menjadi tempat yang sangat dihormati dan disegani oleh masyarakat sekitar. Di wilayah Jember, yang terkenal dengan keberagaman etnis Jawa dan Madura atau yang biasa di sebut Pandalungan, pesantren ini menjadi pusat pengajaran agama yang sangat dipandang tinggi.

Kiai dan ulama di pesantren ini memiliki pengaruh, karena mereka dianggap sebagai penerus ajaran para wali yang memiliki ilmu spiritual tinggi dan karomah.

Di masa lalu, wilayah Tapal Kuda, yang mencakup Jember, Banyuwangi, dan Bondowoso, dikenal sebagai daerah yang banyak melahirkan ulama dan pejuang. Setelah berakhirnya masa kejayaan Kerajaan Demak dan Mataram, wilayah ini menjadi tempat yang subur bagi perlawanan terhadap penjajah.

Dengan ulama sering kali berperan sebagai tokoh sentral dalam pemberontakan. Mereka tidak hanya bertindak sebagai pemimpin spiritual, tetapi juga sebagai ahli strategi yang memimpin perlawanan fisik, seperti yang terjadi dalam Perang Diponegoro. (c2/nur) Baca Juga: Mengapa Perang Sarung hingga Balap Liar Jadi Antensi Polres Jember Selama Ramadan

 

Editor : Dwi Siswanto
#mendirikan ponpes #jember #Ponpes Nahdlatul Arifin #Syekh Mohammad Noer Panti Jember #Panti