HALOJEMBER - Masyarakat Kecamatan Ambulu, Jember, kembali menggelar tradisi mbarak pada hari raya Idul Fitri tahun ini, yang merupakan bentuk silaturahim keliling yang telah berlangsung secara turun-temurun.
Tradisi ini diadakan setelah pelaksanaan salat Idulfitri dan menjadi momen penting bagi umat Islam untuk mempererat hubungan antar tetangga dan keluarga.
Tradisi mbarak melibatkan kelompok-kelompok masyarakat yang bergerak dari rumah ke rumah, saling berkunjung dan berbagi makanan sebagai ungkapan rasa syukur atas berkah yang diterima.
Kegiatan ini tidak hanya sekadar silaturahim, tetapi juga sebagai bentuk syukur atas hasil bumi yang diperoleh oleh para petani dan nelayan setempat.
Pelaksanaan mbarak di Kecamatan Ambulu biasanya berlangsung dari hari pertama hingga hari ketujuh bulan Syawal. Masyarakat sangat antusias menyambut tradisi ini.
Tradisi mbarak di Jember memiliki beberapa ciri khas yang membedakannya dari tradisi serupa di daerah lain. Berikut adalah beberapa faktor yang membuat mbarak di Jember unik:
Asal Usul dan Sejarah Tradisi Mbarak
Tradisi mbarak di Jember berakar dari sejarah Kerajaan Surakarta, dan telah berkembang menjadi bagian integral dari budaya masyarakat setempat.
Meskipun tradisi silaturahim keliling ini juga ada di daerah lain, pelaksanaannya di Jember memiliki nuansa lokal yang kental, termasuk dalam cara masyarakat melaksanakan dan merayakannya.
Dalam mbarak, masyarakat melakukan silaturahim secara berkelompok atau bergerombol ke rumah-rumah tetangga.
Hal ini berbeda dengan tradisi Halal bi Halal, yang biasanya dilakukan dalam konteks yang lebih formal dengan undangan tertentu. Kegiatan ini menciptakan suasana kebersamaan yang lebih akrab dan meriah.
Di Jember, mbarak tidak hanya melibatkan keluarga, tetapi juga melibatkan seluruh komunitas.
Setiap kelompok biasanya membawa makanan dan hasil bumi untuk dibagikan, menciptakan rasa saling memiliki dan berbagi di antara warga.
Selama pelaksanaan mbarak, ada berbagai ritual yang dilakukan, seperti mengarak Pegon (kereta tradisional) yang membawa hasil bumi.
Ini menambah dimensi simbolis pada tradisi tersebut, menjadikannya sebagai ungkapan syukur atas rezeki yang diberikan.
Tradisi ini juga mencerminkan kekayaan budaya lokal Jember, dengan adanya pertunjukan seni dan tarian tradisional yang sering ditampilkan selama perayaan.
Hal ini memberikan warna tersendiri pada pelaksanaan mbarak, menjadikannya tidak hanya sebagai momen silaturahim tetapi juga sebagai festival budaya.
Dengan demikian, tradisi mbarak di Jember tidak hanya sekadar kegiatan silaturahim, tetapi juga merupakan perayaan budaya yang kaya akan nilai-nilai sosial dan spiritual masyarakat setempat.
Penulis: MG25 Ahmad Umar Muhajir Al Jufri
Editor : Halo Jember