JEMBER, Halo Jember - Main bakiak tidak hanya seru, tetapi permainan ini juga sarat akan filosofi kehidupan yang bisa menjadi pembelajaran.
Mendengar kata bakiak, mengingatkan kita saat lomba Agustusan. Permainan tradisional berupa sandal panjang dari kayu yang dimainkan secara kelompok ini ternyata tidak hanya ada saat lomba peringatan hari kemerdekaan saja.
Di Bondowoso, tepatnya di Desa Rejoagung, Kecamatan Sumberwringin, anak-anak setempat masih bermain bakiak. Permainan tradisional ini banyak dimainkan anak-anak setempat.
Suasana riuh penuh tawa pun terdengar saat sejumlah siswa SDN Rejoagung 5, Kecamatan Sumberwringin, memainkan permainan tradisional itu.
Permainan yang mengandalkan kerja sama tim tersebut menjadi ajang kompetisi yang mengasyikkan sekaligus menantang.
Keceriaan pun pecah, jika ada di antara mereka tidak kompak dan terjatuh. Begitu pula tim yang secara kompak, finish terlebih dahulu.
"Kalau yang jatuh satu orang, pasti yang lain ikut jatuh. Itu sangat menghibur," kata Wanda Rini, salah satu anak dari Desa Rejoagung itu.
Tidak hanya yang menonton merasa terhibur, para pemain bakiak juga tertawa. Setelah terjatuh, mereka juga kembali berdiri dan semangat untuk kembali berjalan di atas bakiak.
Wanda mengaku senang bermain seperti ini. “Walau jatuh, tapi senang,” ungkapnya.
Kepala SDN Rejoagung 5, Hartono, mengungkapkan, permainan ini menjadi bagian dari kegiatan rutin sekolah sebagai sarana hiburan dan pembelajaran karakter.
“Anak-anak terlihat sangat senang bermain bakiak. Selain seru, permainan ini mengajarkan kerja sama, kekompakan, dan saling percaya,” ujarnya.
Hartono menambahkan, manfaat dari permainan bakiak tidak hanya pada aspek fisik, tetapi juga pada pembentukan mental dan sosial.
“Mereka belajar bagaimana berkomunikasi dengan baik, mendengarkan instruksi dan tidak egois. Semua harus satu langkah agar bisa maju. Ini sangat cocok untuk membangun karakter sejak dini,” jelasnya.
Permainan bakiak juga terbukti meningkatkan interaksi sosial antarsiswa. Hal itu juga bisa merekatkan persahabatan.
Menurutnya, mereka yang sebelumnya jarang berkomunikasi kini bisa saling memberi semangat dan bekerja sama dalam satu tim.
“Ini lebih dari sekadar permainan. Ini adalah alat pendidikan karakter yang menyenangkan,” terangnya. (faq/dwi)
Editor : Sidkin