Bahkan, kebudayaan masyarakat Jawa ataupun mistis orang jawa kerap dijadikan latar belakang film horor di Indonesia.
Pelet dan susuk masih memikat perhatian banyak orang, baik karena daya tariknya yang melegenda maupun karena misteri yang menyelimutinya.
Meski sering dibicarakan dalam bisik-bisik, praktik ini tak sepenuhnya sirna.
Di beberapa wilayah pedesaan maupun perkotaan, cerita tentang orang yang memikat pasangan lewat "pengasihan" atau mendadak memancarkan pesona lewat "susuk" masih menjadi pembicaraan hangat, bahkan sampai hari ini.
Baca Juga: Mitos Bulu Perindu, Pelet Ampuh Memikat Hati Seseorang
Pelet Ilmu Memikat yang Melewati Logika
Pelet, secara umum, adalah usaha spiritual yang diyakini bisa memengaruhi perasaan orang lain agar jatuh cinta atau tertarik.
Tradisi ini telah mengakar kuat dalam budaya Jawa, dan kerap dijalankan dengan mantra, media tertentu, serta waktu-waktu khusus yang dipercaya lebih "ampuh".
Salah satu pelet yang paling sering disebut dan masyur adalah Jaran Goyang. Konon berasal dari daerah Banyuwangi, pelet ini dianggap sangat kuat hingga mampu menundukkan hati orang yang dituju.
Ritualnya biasanya dilakukan oleh orang yang memahami laku spiritual, dan memerlukan bacaan mantra yang dilakukan secara berulang-ulang dalam keadaan tertentu.
Selain itu, ada pula Semar Mesem, pelet yang dinamai dari tokoh punakawan dalam pewayangan.
Ilmu ini tidak hanya memikat secara fisik, tapi juga secara batin, karena dipercaya memberikan aura positif yang membuat si pemiliknya terlihat lebih menyenangkan dan menawan di mata banyak orang.
Baca Juga: Petualangan Seru Mengarungi Laut Menuju Pulau Tabuhan, Maldives Mini di Ujung Banyuwangi
Jenis lainnya yang lebih unik adalah Pelet Lintrik, yang berasal dari budaya masyarakat Jawa klasik.
Dulu, pelet ini kerap digunakan oleh wanita yang bekerja di dunia malam untuk menarik pelanggan. Media yang digunakan pun tak lazim mulai dari kartu remi hingga benda pribadi milik target.
Susuk Daya Tarik yang Ditanam dalam Diri
Berbeda dari pelet yang bekerja lewat pengaruh batin orang lain, susuk lebih bersifat meningkatkan daya tarik seseorang dari dalam dirinya sendiri.
Susuk biasanya berupa benda-benda kecil, seperti emas, berlian, atau logam mulia lainnya, yang secara gaib "ditanamkan" ke tubuh seseorang oleh seorang paranormal atau dukun khusus.
Salah satu jenis susuk yang cukup populer adalah Susuk Asmoro Ndalu, yang diyakini mampu membangkitkan pesona dan daya tarik luar biasa di malam hari.
Banyak orang menggunakannya untuk memikat hati pasangan atau agar terlihat lebih memesona saat berada di tengah keramaian.
Ada juga Susuk Mani Gajah, yang dikaitkan dengan energi dari hewan langka. Susuk ini dipercaya bisa meluluhkan siapa pun yang melihat atau berinteraksi dengan pemakainya.
Sedangkan Susuk Kantil, menggunakan energi bunga kantil (cempaka putih) yang dikenal harum dan lekat secara simbolik dengan cinta dan kerinduan.
Antara Kepercayaan, Warisan, dan Kontroversi
Pelet dan susuk bukan tanpa kontroversi. Dalam perspektif keagamaan, praktik ini dianggap menyimpang atau bahkan bertentangan dengan ajaran tauhid.
Namun, dari sisi budaya, praktik ini masih menjadi bagian dari warisan lokal yang hidup di tengah masyarakat Jawa.
Menariknya, banyak praktisi kejawen menyelaraskan praktik pelet dan susuk dengan doa-doa atau tirakat yang berbau religius, seperti puasa, dzikir, dan semedi. Hal ini menunjukkan adanya upaya kompromi antara spiritualitas lokal dan keyakinan pribadi.
Di sisi lain, meningkatnya minat terhadap dunia spiritual di media sosial dan platform daring membuat topik seperti pelet dan susuk kembali ramai dibicarakan.
Sejumlah “praktisi spiritual” bahkan menawarkan jasa mereka secara daring, lengkap dengan testimoni dan paket tarif yang bisa dipilih.
Meskipun zaman terus berubah dan teknologi semakin canggih, kenyataannya dunia mistis tidak pernah benar-benar ditinggalkan.
Pelet dan susuk tetap menjadi topik yang memancing rasa penasaran, terutama di kalangan muda yang ingin tahu tentang warisan budaya Jawa yang penuh teka-teki.
Penulis MG25 Vikriansyah
Editor : Dwi Siswanto