Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Plawangan Puger: Misteri Jalur Gaib dan Tradisi Laut yang Menolak Dilupakan

Dwi Siswanto • Sabtu, 17 Mei 2025 | 15:40 WIB
Perahu nelayan hendak masuk Plawangan Puger (JUMAI/RADAR JEMBER)
Perahu nelayan hendak masuk Plawangan Puger (JUMAI/RADAR JEMBER)

 HALO JEMBER - Di balik gelombang Pantai Puger yang memecah di pesisir selatan Jember, tersimpan cerita-cerita lama yang tak lekang oleh waktu. 

Bagi masyarakat sekitar, laut bukan sekadar bentangan air asin, melainkan ruang yang sarat makna penuh dengan kekuatan tak kasat mata yang dipercaya masih aktif hingga hari ini.

Kepercayaan akan keberadaan “jalan gaib” menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas spiritual kawasan ini. Konon, ada jalur tak terlihat yang terbentang di sepanjang garis pantai.

 Siapa pun yang melintasinya tanpa izin atau mengabaikan pantangan adat, diyakini bisa lenyap begitu saja, seperti ditarik ke alam lain.

Cerita semacam ini mungkin terdengar seperti dongeng bagi orang kota. Namun bagi warga Puger, kisah-kisah semacam itu adalah peringatan nyata yang diwariskan dari generasi ke generasi. 

Bukan hal asing bila nelayan atau pengunjung mendadak hilang, dan tubuhnya tak pernah ditemukan. 

Kejadian semacam itu sering dikaitkan dengan penguasa laut selatan, sosok legendaris yang disebut-sebut sebagai Nyi Roro Kidul, atau dalam versi lokal, penguasa laut yang tak kalah disegani.

Ritual yang Menjaga Keseimbangan

Untuk menjaga hubungan harmonis dengan alam dan penguasa laut, warga Puger setiap tahunnya menggelar upacara "Petik Laut". Acara ini bukan hanya seremoni biasa, tapi bentuk konkret rasa hormat masyarakat terhadap laut yang menjadi sumber kehidupan mereka.

Dalam ritual itu, sesaji berupa hasil bumi dan tumpeng dibawa menggunakan perahu dan dilarung ke tengah laut. 

Prosesi ini disertai doa-doa yang dipimpin tokoh agama dan adat, menciptakan suasana sakral yang menyatukan unsur spiritual dan budaya.

Baca Juga: Misteri di Balik Pohon Pisang: Mitos, Kepercayaan, dan Fakta yang Perlu Anda Ketahui

Tradisi ini biasanya dilangsungkan pada bulan Suro dalam kalender Jawa, bertepatan dengan momentum refleksi dan permohonan keselamatan.

Tak jarang, ritual ini diramaikan oleh pertunjukan kesenian daerah seperti pencak silat, musik tradisional, hingga lomba perahu.

Di balik kemeriahan itu, tersimpan keyakinan mendalam: laut bukan untuk ditaklukkan, melainkan dihormati. Baca Juga: Mitos Bulu Perindu, Pelet Ampuh Memikat Hati Seseorang

Antara Kepercayaan dan Keyakinan

Yang menarik, tradisi Petik Laut di Puger bukan ritual magis semata. Ia adalah titik temu antara kepercayaan lokal dan ajaran agama Islam. 

Sebelum prosesi larung, warga menggelar pengajian, tahlil, dan pembacaan ayat-ayat suci sebagai wujud tawakal kepada Tuhan. Sinkretisme ini menunjukkan bagaimana spiritualitas lokal bisa berjalan seiring dengan keyakinan religius, tanpa saling meniadakan.

Bagi sebagian kalangan modern, mungkin tradisi semacam ini dianggap irasional. Namun, bagi masyarakat Puger, inilah bagian dari jati diri yang memperkuat solidaritas sosial dan ketangguhan menghadapi tantangan alam, terutama bagi mereka yang hidup bergantung pada laut.

 Baca Juga: Ini Hubungan Habib Abu Bakar Gresik dan Habib Sholeh Tanggul: Warisan Dakwah dan Kewalian

Warisan yang Terancam Lenyap?

Meski masih dilestarikan, tradisi dan kisah mistis di Pantai Puger menghadapi tantangan dari zaman. Generasi muda mulai kehilangan ketertarikan terhadap ritual-ritual adat. Banyak yang lebih akrab dengan dunia digital ketimbang memahami makna filosofis di balik Petik Laut.

Namun, pemerintah daerah dan kelompok budaya lokal terus mendorong agar tradisi ini tak hanya bertahan, tapi juga berkembang sebagai aset wisata budaya.

Dengan kemasan yang lebih komunikatif dan kolaborasi lintas komunitas, Pantai Puger berpotensi menjadi destinasi spiritual dan budaya yang unik di Jawa Timur.

 Baca Juga: Cerita Barcelona Sapu Bersih Gelar Domestik, Kemenangan Atas Real Madrid Jadi Penutup yang Indah

Pantai Puger bukan sekadar tempat untuk menikmati matahari tenggelam atau menunggu ombak besar bagi peselancar. Ia adalah ruang penuh simbol dan cerita. 

Di sanalah manusia, laut, dan yang tak terlihat saling berinteraksi dalam harmoni yang sudah berlangsung sejak zaman leluhur.

Tradisi Petik Laut dan kisah tentang jalan gaib bukan sekadar folklore, tetapi refleksi dari cara masyarakat pesisir memahami dan menghormati alam.

 Selama kisah-kisah itu terus diceritakan dan tradisi dijaga, Pantai Puger akan tetap menjadi wilayah di mana alam dan spiritualitas menyatu dalam keheningan yang dalam.

Penulis MG25 Vikriansyah

Editor : Dwi Siswanto
#Jalur Gaib #Pantai Puger #Alam lain #plawangan puger