Halo Jember - Makam Sunan Giri yang terletak di Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur, menjadi salah satu destinasi religi paling ramai dikunjungi di kawasan pesisir utara Jawa.
Sebagai salah satu dari Wali Songo, Sunan Giri dikenal sebagai penyebar Islam yang berpengaruh besar di wilayah Jawa Timur.
Peninggalan sejarah dan spiritualitas ini tak pernah sepi dari peziarah, baik dari dalam maupun luar daerah.
Jalur menuju kompleks makam Sunan Giri berada di atas perbukitan, menantang setiap peziarah untuk mendaki ratusan anak tangga.
Namun perjalanan tersebut seolah terbayar lunas saat tiba di atas, di mana makam sang wali berada dalam nuansa khidmat yang kental.
Di sepanjang tangga, tampak deretan pedagang menjajakan berbagai dagangan: mulai dari makanan, oleh-oleh, hingga benda-benda religi.
Pemandangan ini memunculkan perdebatan klasik: antara penghormatan spiritual dan geliat komersial di sekitar situs religi.
Di satu sisi, aktivitas ekonomi warga sekitar memberi manfaat secara langsung bagi masyarakat setempat.
Fenomena ini mengaburkan batas antara ritual keagamaan dengan aktivitas pariwisata.
Terlebih lagi, fasilitas umum di sekitar kawasan makam seperti tempat parkir, losmen, hingga jasa ojek tangga, tumbuh dengan sangat cepat.
Hal ini menandakan betapa makam ini telah berkembang menjadi lebih dari sekadar tempat ziarah, namun juga sebagai destinasi ekonomi.
Meski demikian, banyak peziarah yang tetap menjaga kekhusyukan di area utama makam.
Suasana hening di sekitar cungkup menjadi momen perenungan yang dalam bagi sebagian besar pengunjung.
Mereka menyadari bahwa terlepas dari keramaian luar, nilai spiritual dari ziarah tetap menjadi inti utama.
Kompleks Makam Sunan Giri memang telah melewati transformasi dari masa ke masa.
Namun pertanyaannya: apakah makam ini akan tetap menjadi tempat menenangkan jiwa, atau akan sepenuhnya melebur dalam dinamika wisata yang terus berkembang?
Yang jelas, keberadaannya tetap penting bagi sejarah dan identitas masyarakat Islam Jawa Timur.
Penulis: MG25 Ailatul Miza Zulfa
Editor : Dwi Siswanto