HALO JEMBER - Terlepas dari benar‑tidaknya secara ilmiah, santet sering diyakini sebagai penyebab sakit mendadak, gangguan psikis, atau nasib buruk beruntun.
Karena itu, masyarakat mencari “obat” yang dianggap paling ampuh.
Secara garis besar, ada tiga pendekatan yang bisa dicoba:
1. Pemeriksaan Medis Terlebih Dahulu
- Dokter menjadi tempat pertama untuk menyingkirkan penyebab fisik atau infeksi.
- Banyak kasus sakit misterius ternyata gangguan lambung, autoimun, atau psikosomatis yang bisa ditangani obat dan terapi.
- Jika kondisi membaik setelah terapi medis, dugaan santet biasanya gugur.
2. Ritual & Ruqyah
- Ruqyah syar’iyyah (membaca ayat‑ayat Al‑Qur’an) populer di kalangan Muslim; tujuannya menenangkan jiwa, mengusir energi negatif, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
- Tradisi lain memakai doa‑doa lokal, air ber‐tasbih, garam,/ daun bidara untuk “menetralisir” santet.
- Prinsipnya: sugesti positif plus keyakinan religius dapat meredakan kecemasan dan memulihkan semangat penderita.
3. Psikologi & Dukungan Sosial
- Ketakutan “disantet” kerap memicu stres hebat; konseling dapat membantu menata pikir‑perasa.
- Keluarga sebaiknya memberi dukungan alih‑alih tuduhan, lingkungan suportif mempercepat pemulihan.
- Perbanyak aktivitas relaksasi (meditasi, zikir, olahraga ringan) untuk menekan hormon stres.
Intinya, selesaikan semua sumber kemungkinan: dari kesehatan fisik hingga konflik sosial, sambil menjaga keyakinan dan kewaspadaan agar tidak terjebak praktik yang justru merugikan.
Penulis: MG25 Ailatul Miza Zulfa
Editor : Dwi Siswanto