Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Mitos Gunung Gede: Antara Larangan Haid, Teror Mistis, dan Kearifan Lokal yang Terlupakan

Halo Jember • Selasa, 24 Juni 2025 | 04:04 WIB

Alun-alun Suryakencana termasuk dalam Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, yang terletak di Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Alun-alun Suryakencana termasuk dalam Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, yang terletak di Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

HALO JEMBER - Film horor Petaka Gunung Gede yang tayang di bioskop pada Februari 2025 tak hanya menyuguhkan kisah menegangkan, tetapi juga mengangkat mitos-mitos lokal yang sudah lama hidup di kalangan para pendaki. 

Salah satu yang paling mencolok adalah larangan mendaki bagi perempuan yang sedang menstruasi. 

Mitos ini, meskipun belum pernah diresmikan dalam aturan pendakian, masih diyakini oleh banyak orang dan bahkan menjadi cerita yang diwariskan lintas generasi.

Dalam film tersebut, karakter Ita yang sedang haid mengalami kesurupan dan diteror oleh makhluk halus selama pendakian bersama enam rekannya di Gunung Gede. 

Setelah pulang, Ita jatuh sakit hingga akhirnya meninggal dunia, yang belakangan terungkap akibat santet yang dibuang ke kawasan gunung. 

Meskipun kisah itu fiktif, masyarakat lokal meyakini bahwa kejadian serupa bisa terjadi apabila pantangan dilanggar.

Fenomena larangan menstruasi ini bukan hanya terjadi di Gunung Gede. Dalam penelitian Windy Lestari (2021) dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, disebutkan bahwa mitos serupa juga hidup di Gunung Prau, Dieng. 

Di beberapa jalur seperti via Dwarawati, penjaga basecamp bahkan menyarankan pendaki perempuan untuk tidak naik jika sedang haid karena dianggap bisa mengundang kejadian mistis, seperti kesurupan, tersasar, atau mengalami kecelakaan.

Namun, benarkah ini hanya mitos belaka?

Menurut Eko Wiwid, tokoh masyarakat sekaligus relawan di kawasan Gunung Gede Pangrango, larangan tersebut sebenarnya memiliki penjelasan logis. 

Pendakian membutuhkan energi fisik dan kestabilan emosi. Sementara, perempuan yang sedang menstruasi mengalami kelelahan lebih cepat, perubahan suasana hati, hingga nyeri fisik. Risiko ini, jika tidak ditangani dengan persiapan matang, bisa berujung celaka.

Hal serupa ditegaskan oleh dr. Shreelakshmi dari Indiahikes, yang menyebutkan bahwa olahraga ringan seperti mendaki justru bisa membantu meredakan kram. 

Bahkan penelitian David R. Boulware dari Universitas Minnesota (2007) menemukan bahwa 41% pendaki perempuan mengalami menstruasi yang lebih pendek, dan 22% bahkan tidak haid sama sekali selama pendakian karena perubahan fisik yang ekstrem.

Dengan kata lain, mitos ini bisa jadi merupakan bentuk lokal wisdom, kearifan masyarakat yang dikemas dalam bentuk larangan agar lebih ditaati. 

Seperti halnya larangan buang air kecil sembarangan di gunung, yang dikaitkan dengan gangguan gaib. Padahal, menurut Eko, larangan itu sebenarnya untuk mencegah risiko digigit hewan berbahaya atau mencemari sumber air.

Humas Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Agus Deni, menambahkan bahwa lebih penting bagi pendaki untuk mempersiapkan diri secara fisik, membawa peralatan sesuai standar, dan menjaga kebersihan lingkungan.

Di sisi lain, mitos tentang Gunung Gede juga mencakup cerita tentang kerajaan gaib Eyang Suryakencana yang dipercaya bersemayam di sana.

 Menurut Eko, anggapan itu muncul karena masyarakat zaman dahulu ingin menjaga kesakralan kawasan gunung agar tetap lestari. 

Dengan menyebutkan tempat suci, masyarakat terdorong untuk menjaga sikap dan menghormati alam.

Sementara itu, Sekretaris MUI Kabupaten Cianjur, Saepul Ulum, mengingatkan masyarakat untuk tidak sampai meyakini mitos lebih dari iman kepada Sang Pencipta. 

“Ambil pelajaran dari mitos, tapi jangan sampai membuat kita takut berlebihan. Alam semesta adalah sarana kita untuk bersyukur,” ujarnya.

Dari sinilah kita bisa melihat bahwa mitos bukan sekadar cerita mistis, melainkan juga refleksi dari cara masyarakat menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. 

Maka, daripada memandangnya sebagai tahayul semata, mungkin sudah saatnya kita memahami pesan-pesan tersembunyi yang terselip dalam mitos dan larangan tersebut yang pada akhirnya, bertujuan untuk keselamatan dan kelestarian.

Penulis MG25 Carolina Yuniati

Editor : Dwi Siswanto
#gunung gede #film horor #gunung gede pangrango #mitos #UIN Syarif Hidayatullah Jakarta #halo jember