HALO JEMBER - Selat Bali bukanlah jalur laut biasa. Selat ini telah lama dikenal sebagai salah satu jalur penyeberangan paling berbahaya di Indonesia, dengan riwayat panjang kecelakaan kapal yang menelan banyak korban jiwa.
Berikut ini adalah mitos dan kepercayaan masyarakat sekitar Selat Bali terkait hal-hal yang harus dilakukan agar selamat saat menyeberangi selat tersebut. Meskipun tidak bersifat ilmiah, kepercayaan ini hidup kuat dan dihormati oleh banyak warga pesisir, terutama di kawasan Gilimanuk (Bali) dan Ketapang (Banyuwangi).
Ini yang Harus Dilakukan Agar Selamat Menyeberang di Selat Bali
1. Berdoa di Pintu Masuk Pelabuhan
Sebelum menyeberang, baik sopir, penumpang, maupun nakhoda biasanya disarankan:
-
Membaca doa sesuai keyakinan masing-masing, atau
-
Ngaturang canang (persembahan kecil) bagi yang beragama Hindu.
????️ Tujuannya: memohon izin kepada “penjaga laut” agar perjalanan aman dan tidak diganggu oleh makhluk halus penghuni selat.
2. Jangan Berbicara Sembarangan di Atas Kapal
Dalam kepercayaan lokal, penumpang dilarang:
-
Mengumpat, bercanda soal tenggelam, atau
-
Mengeluarkan kata-kata kotor saat berada di atas kapal.
- Baca Juga: Update Tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali, Kemenhub: 4 Penumpang Meninggal Dunia
???? Konon, kata-kata negatif bisa “mengundang” energi buruk atau membuat makhluk halus tersinggung.
3. Hindari Memakai Pakaian Warna Hijau Terang
Ini berasal dari kepercayaan umum di wilayah selatan Indonesia, terutama yang berkaitan dengan mitos Ratu Kidul.
-
Warna hijau dipercaya sebagai warna kesukaan sang ratu laut.
-
Penumpang yang memakai warna ini dianggap "menantang" atau "menarik perhatian".
???? Meski tak ada bukti ilmiah, mitos ini membuat banyak pelaut dan nelayan memilih warna netral.
Baca Juga: Banyak yang Tidak Tahu Mitos Kejatuhan Cicak di Pundak Kiri, Benarkah Pertanda Sial?
4. Tidak Menyebrang Saat Hari “Pantangan”
Masyarakat Bali mengenal hari-hari pantangan seperti:
-
Tilem (bulan mati) dan Kajeng Kliwon (hari sakral),
-
Hari tertentu menurut kalender pawukon (seperti Tumpek Uye).
???? Pada hari-hari itu, laut dianggap sedang “marah” dan tidak boleh dilalui sembarangan.
Baca Juga: Berhenti Makan Mie Instan Jadi Rahasia Kulit Glowing , Sekedar Mitos atau Fakta ?
5. Tabur Bunga atau Sesaji Sebelum Berangkat
Beberapa nakhoda atau awak kapal membuat ritual kecil:
-
Menaburkan bunga di laut.
-
Meletakkan canang sari, dupa, dan segehan di haluan kapal.
???? Ini dipercaya sebagai bentuk penghormatan agar laut tidak menuntut tumbal.
Baca Juga: Mitos Tumbal Nyi Roro Kidul Penguasa Pantai Selatan
6. Bersikap Sopan dan Hening Saat di Tengah Selat
Titik tengah Selat Bali dipercaya sebagai area paling "keramat".
Beberapa larangan tak tertulis:
-
Jangan tertawa keras.
-
Jangan menunjuk-nunjuk ke laut atau langit.
-
Jangan menyebut nama-nama roh atau makhluk halus.
???? Selat ini diyakini memiliki "penjaga gaib" yang sensitif terhadap sikap manusia.
Baca Juga: Mengenal Orang Linuwih, Praktik Mistis Kejawen Jembatan Realita dan Dunia Gaib
7. Bersedekah atau Melakukan Niat Baik Sebelum Menyeberang
Beberapa sopir truk dan nelayan meyakini bahwa:
-
Sedekah sebelum berangkat akan “melancarkan perjalanan”.
-
Niat buruk seperti mengangkut barang terlarang, miras, atau mencuri bisa membawa sial.
???? Karma diyakini lebih cepat bekerja di jalur laut seperti Selat Bali.
Antara Mitos dan Kearifan Lokal
Meskipun banyak dari praktik ini bersifat mistis dan tak dapat dibuktikan secara ilmiah, kepercayaan ini telah menjadi bagian dari kearifan lokal dan budaya keselamatan tradisional.
Baca Juga: Gangguan Jin di Rumah, Tanda-Tanda dan Cara Mengusirnya Menurut Islam
Dalam kondisi cuaca yang sering tak terduga dan medan laut yang ganas, doa dan sikap hormat pada alam adalah cara masyarakat menjaga keseimbangan antara dunia nyata dan niskala (tak terlihat).
Editor : Dwi Siswanto