Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Mitos Selat Bali : 7 Hal yang Harus Dilakukan Agar Selamat Menyeberang Selat Bali

Dwi Siswanto • Jumat, 4 Juli 2025 | 01:31 WIB

Personel SAR Bali saat melakukan pencarian terhadap manifest KMP Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di Selat Bali. Ini daftar penumpangnya.
Personel SAR Bali saat melakukan pencarian terhadap manifest KMP Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di Selat Bali. Ini daftar penumpangnya.

HALO JEMBER - Selat Bali bukanlah jalur laut biasa. Selat ini telah lama dikenal sebagai salah satu jalur penyeberangan paling berbahaya di Indonesia, dengan riwayat panjang kecelakaan kapal yang menelan banyak korban jiwa.

Berikut ini adalah mitos dan kepercayaan masyarakat sekitar Selat Bali terkait hal-hal yang harus dilakukan agar selamat saat menyeberangi selat tersebut. Meskipun tidak bersifat ilmiah, kepercayaan ini hidup kuat dan dihormati oleh banyak warga pesisir, terutama di kawasan Gilimanuk (Bali) dan Ketapang (Banyuwangi).

Baca Juga: Kronologi Singkat Insiden Kapal Tenggelam di Selat Bali, Ada Cerita Rebutan Jaket Pelampung hingga Aksi Heroik Kru Kapal


Ini yang Harus Dilakukan Agar Selamat Menyeberang di Selat Bali


1. Berdoa di Pintu Masuk Pelabuhan

Sebelum menyeberang, baik sopir, penumpang, maupun nakhoda biasanya disarankan:

????️ Tujuannya: memohon izin kepada “penjaga laut” agar perjalanan aman dan tidak diganggu oleh makhluk halus penghuni selat.

Baca Juga: Fenomena Aneh Selat Bali : Mitos yang Belum Bisa Dipecahkan Nalar, Dipercaya Ada Penunggu Laut Bernama I Ratu Segara


2. Jangan Berbicara Sembarangan di Atas Kapal

Dalam kepercayaan lokal, penumpang dilarang:

???? Konon, kata-kata negatif bisa “mengundang” energi buruk atau membuat makhluk halus tersinggung.


3. Hindari Memakai Pakaian Warna Hijau Terang

Ini berasal dari kepercayaan umum di wilayah selatan Indonesia, terutama yang berkaitan dengan mitos Ratu Kidul.

???? Meski tak ada bukti ilmiah, mitos ini membuat banyak pelaut dan nelayan memilih warna netral.

Baca Juga: Banyak yang Tidak Tahu Mitos Kejatuhan Cicak di Pundak Kiri, Benarkah Pertanda Sial?


4. Tidak Menyebrang Saat Hari “Pantangan”

Masyarakat Bali mengenal hari-hari pantangan seperti:

???? Pada hari-hari itu, laut dianggap sedang “marah” dan tidak boleh dilalui sembarangan.

Baca Juga: Berhenti Makan Mie Instan Jadi Rahasia Kulit Glowing , Sekedar Mitos atau Fakta ?


5. Tabur Bunga atau Sesaji Sebelum Berangkat

Beberapa nakhoda atau awak kapal membuat ritual kecil:

???? Ini dipercaya sebagai bentuk penghormatan agar laut tidak menuntut tumbal.

Baca Juga: Mitos Tumbal Nyi Roro Kidul Penguasa Pantai Selatan


6. Bersikap Sopan dan Hening Saat di Tengah Selat

Titik tengah Selat Bali dipercaya sebagai area paling "keramat".
Beberapa larangan tak tertulis:

???? Selat ini diyakini memiliki "penjaga gaib" yang sensitif terhadap sikap manusia.

Baca Juga: Mengenal Orang Linuwih, Praktik Mistis Kejawen Jembatan Realita dan Dunia Gaib


7. Bersedekah atau Melakukan Niat Baik Sebelum Menyeberang

Beberapa sopir truk dan nelayan meyakini bahwa:

???? Karma diyakini lebih cepat bekerja di jalur laut seperti Selat Bali.


Antara Mitos dan Kearifan Lokal

Meskipun banyak dari praktik ini bersifat mistis dan tak dapat dibuktikan secara ilmiah, kepercayaan ini telah menjadi bagian dari kearifan lokal dan budaya keselamatan tradisional.

Baca Juga: Gangguan Jin di Rumah, Tanda-Tanda dan Cara Mengusirnya Menurut Islam

Dalam kondisi cuaca yang sering tak terduga dan medan laut yang ganas, doa dan sikap hormat pada alam adalah cara masyarakat menjaga keseimbangan antara dunia nyata dan niskala (tak terlihat).

Editor : Dwi Siswanto
#pintu masuk #mitos selat bali #ketapang #selat bali #gilimanuk