Pusaran Aneh di Selat Bali Picu Kekhawatiran: Sejumlah Kapal Terpaksa Memutar Jalur, Tak Sedikit Kapal Tenggelam Selat Bali
Dwi Siswanto• Sabtu, 5 Juli 2025 | 01:38 WIB
Selat Bali, salah satu perairan yang paling angker di Indonesia. Ada banyak cerita mistis hingga menelan korban jiwa.
HALO JEMBER – Fenomena alam tak biasa kembali terjadi di Selat Bali, jalur laut yang menghubungkan Pulau Jawa dan Bali.
Sejumlah nelayan dan awak kapal penyeberangan melaporkan munculnya pusaran air misterius yang memaksa kapal-kapal untuk memutar arah demi menghindari kemungkinan bahaya.
Fenomena ini bahkan diduga telah menyebabkan tenggelamnya beberapa kapal kecil dalam beberapa pekan terakhir.
Menurut keterangan warga pesisir dan pelaut lokal, pusaran itu muncul secara tiba-tiba, terutama saat arus laut menguat di pagi dan sore hari.
Lokasinya berpindah-pindah namun paling sering terlihat di sekitar perairan antara Pelabuhan Gilimanuk (Bali) dan Pelabuhan Ketapang (Banyuwangi).
“Awalnya cuma arus deras biasa, tapi belakangan seperti ada pusaran besar, air berputar cepat. Kapal nelayan kami nyaris terbalik minggu lalu,” ujar Pak Wahid, seorang nelayan asal Banyuwangi.
Tenggelamnya Kapal Kecil
Dalam catatan kelompok nelayan lokal, sedikitnya tiga perahu kecil dilaporkan tenggelam atau rusak berat sejak pertengahan Juni.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, namun para nelayan mengaku kini tak berani melintasi jalur tengah selat.
Operator kapal feri penyeberangan juga mulai mengambil langkah waspada. Beberapa kapal besar memilih memutar sedikit jalur pelayaran untuk menghindari titik-titik yang diduga menjadi lokasi munculnya pusaran tersebut.
Meski demikian, belum ada pengumuman resmi penutupan jalur dari pihak otoritas pelabuhan.
Ahli Oseanografi: Fenomena Alam, Tapi Harus Diwaspadai
Fenomena ini menarik perhatian para ahli. Dosen dan peneliti oseanografi dari Universitas Udayana, Dr. Ni Wayan Arini, menjelaskan bahwa Selat Bali memang dikenal memiliki arus laut yang sangat kuat dan tidak stabil, terutama pada musim pancaroba.
“Kemungkinan besar itu adalah fenomena arus berbalik atau eddy current yang terbentuk akibat pertemuan arus dari Laut Bali dan Samudra Hindia. Jika arus ini berputar dengan kecepatan tinggi, bisa menimbulkan pusaran yang cukup kuat untuk menarik perahu kecil,” jelasnya.
Namun ia juga mengingatkan agar fenomena ini tidak diabaikan. Jika intensitasnya meningkat, perlu dilakukan pemantauan satelit dan alat pendeteksi arus bawah laut untuk mencegah kecelakaan.
Pusaran Air dan Mitos Lokal
Menariknya, sebagian warga masih mengaitkan kejadian ini dengan mitos lokal.
Dalam kepercayaan masyarakat Bali dan Banyuwangi, Selat Bali diyakini sebagai jalur sakral yang dijaga oleh makhluk gaib. Munculnya pusaran besar dianggap sebagai tanda ketidakseimbangan atau “kemarahan penjaga laut”.
Peringatan dini untuk pelayaran kecil telah dikeluarkan secara terbatas, dan para nelayan diimbau untuk menghindari area pusaran saat kondisi laut tidak stabil.