HALO JEMBER - Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI), pekerjaan yang selama ini banyak dilakukan oleh perempuan justru menjadi yang paling rentan terdampak.
Laporan dari Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) PBB mencatat bahwa sebanyak 9,6 % pekerjaan tradisional yang dikerjakan perempuan akan mengalami perubahan akibat AI.
Sementara hanya 3,5 % pekerjaan laki-laki yang diprediksi mengalami dampak serupa.
Perbedaan ini terjadi karena banyak pekerjaan administratif seperti sekretaris, yang umumnya diisi oleh perempuan.
Itu akan mempermudah profesi ini digantikan oleh otomatisasi, sebagaimana dijelaskan dalam laporan Reuters yang dikutip Halo Jember dari CNBC, Senin (14/7/2025).
Meski begitu, manusia tetap memiliki ruang dalam ekosistem kerja yang dipengaruhi AI karena tidak semua profesi akan sepenuhnya tergantikan oleh mesin.
"Kami menekankan paparan itu tidak menyiratkan otomatisasi langsung pada seluruh pekerjaan, namun pada potensi sebagian besar tugas sekarang dilakukan dengan teknologi tersebut," tulis laporan tersebut.
AI justru bisa meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja.
Sehingga penting bagi sektor publik maupun swasta untuk bersama-sama menyesuaikan diri terhadap perubahan ini.
PBB pun mendorong adanya peran aktif dari pemerintah, organisasi pengusaha, serta para pekerja untuk merancang sistem kerja baru yang selaras dengan teknologi cerdas.
Dalam beberapa sektor seperti media, pengembangan perangkat lunak, dan keuangan, peran manusia akan tetap dibutuhkan namun dengan cara kerja yang lebih kompleks dan berubah secara radikal.
Editor : Sidkin