Misteri Langit Gelap Gunung Salak yang Selalu Dikaitkan dengan Kemunculan Ahool si Kelelawar Raksasa Berkepala Monyet
Dwi Siswanto• Rabu, 16 Juli 2025 | 20:31 WIB
Sebuah kelelawar yang ditangkap dan banyak diunggah di medsos
Di balik hutan lebat dan kabut tebal yang menyelimuti Gunung Salak, Jawa Barat, terdapat sebuah kisah yang tak lekang oleh waktu. Yaitu Ahool.
Ahool adalah makhluk bersayap raksasa yang menghuni langit malam dan hidup dalam bisikan para pendaki.
Ahool sering disebut sebagai kelelawar raksasa dengan sayap membentang hingga 3 meter, wajah seperti primata yaitu monyet, dan suara khas menggetarkan malam: a-hooool.
Namun apakah Ahool murni mitos, atau ada kemungkinan nyata bahwa hutan-hutan tropis di Indonesia menyembunyikan makhluk terbang berukuran luar biasa?
Secara ilmiah, Indonesia memang menjadi rumah bagi salah satu spesies kelelawar terbesar di dunia, yaitu Flying Fox (Pteropus vampyrus).
Spesies ini dapat memiliki bentang sayap hingga 1,7 meter, menjadikannya mamalia terbang terbesar yang masih hidup.
Meskipun ukurannya mengesankan, flying fox tidak berbahaya bagi manusia — mereka pemakan buah, bukan pemangsa.
Namun ukuran flying fox masih belum sebanding dengan deskripsi Ahool. Ahool digambarkan jauh lebih besar, hingga 3 meter bentang sayapnya, dan memiliki perilaku yang lebih misterius: aktif di malam hari, bersuara nyaring, dan muncul tiba-tiba di antara pepohonan saat kabut turun.
Gunung Salak bukan sekadar tempat wisata alam biasa. Gunung ini dikenal sebagai salah satu kawasan paling angker di Pulau Jawa, dengan lanskap yang terjal, vegetasi rapat, dan cuaca yang sulit diprediksi.
Banyak kecelakaan pendakian dan bahkan jatuhnya pesawat terjadi di kawasan ini, menambah aura mistis yang menyelimuti Salak.
Dalam kondisi seperti ini, bukan hal aneh jika imajinasi manusia mulai membentuk narasi. Bayangkan sekelebat bayangan hitam melintas di antara pepohonan saat senja, suara jeritan asing dari langit, dan perasaan diawasi tanpa tahu dari mana asalnya.
Ini adalah pengalaman yang cukup sering dilaporkan oleh para pendaki dan penduduk sekitar. Dari sinilah nama Ahool muncul dan diwariskan secara lisan.
Ahool dalam Perspektif Budaya dan Psikologi
Ahool bukan hanya sekadar cerita horor gunung. Dalam konteks budaya lokal, makhluk seperti Ahool bisa dipandang sebagai simbol alam yang liar dan tak terkendali.
Ia adalah manifestasi dari ketakutan sekaligus rasa hormat terhadap kekuatan alam yang besar — seperti hutan, langit malam, dan gunung itu sendiri.
Secara psikologis, Ahool juga bisa dijelaskan sebagai bentuk pareidolia — kecenderungan otak manusia untuk melihat pola atau makhluk familiar dari hal yang samar-samar, seperti bayangan di antara pepohonan atau suara yang tidak dikenali.
Namun, hal ini tidak serta-merta menafikan kemungkinan bahwa ada makhluk besar yang belum teridentifikasi.
Menariknya, Ahool sempat menjadi perhatian dunia internasional. Peneliti asal Inggris, Ivan T. Sanderson, pernah menulis tentang makhluk ini dalam jurnal kriptozoologi pada tahun 1940-an.
Ia menduga bahwa Ahool mungkin adalah spesies kelelawar raksasa purba yang belum punah — sesuatu yang bisa menjelaskan perjumpaan misterius para pendaki dengan makhluk bersayap besar.
Beberapa kalangan bahkan mengaitkan Ahool dengan makhluk mitologi lainnya dari luar negeri, seperti Mothman di Amerika atau Kongamato di Afrika.
Semua ini menunjukkan bahwa mitos makhluk bersayap besar adalah narasi universal yang muncul di banyak tempat mungkin sebagai cerminan ketakutan terdalam manusia akan langit malam dan hutan yang tak dikenal.