Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Banjir dan Penyebabnya: Pelajaran dari Tragedi di Bali

Dwi Siswanto • Kamis, 11 September 2025 | 06:32 WIB
sejumlah warga saat mencari korban yang terseret arus di Desa Pengambengan, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Rabu (10/9/2025). (Foto: Dok Perbekel Pengambengan)
sejumlah warga saat mencari korban yang terseret arus di Desa Pengambengan, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Rabu (10/9/2025). (Foto: Dok Perbekel Pengambengan)

HALO JEMBER – Banjir Bali yang terjadi baru-baru ini menjadi perhatian banyak orang, bukan hanya karena dampaknya yang cukup besar tetapi juga sebagai contoh masalah banjir yang sering muncul di berbagai wilayah.

Bencana banjir yang sering terjadi biasanya di perkotaan besar, namun bukan juga pedesaan selamat dari ini sekalipun wilayah pedesaan memiliki resapan air yang luas.

Tetapi, banjir yang terjadi di perkotaan dan pedesaaan memiliki penyebab yang berbeda.

Sebenarnya, banjir tidak hanya dipicu oleh curah hujan yang tinggi, melainkan ada beberapa faktor lain yang saling terkait.

Salah satu penyebab utama adalah kurangnya daya serap air oleh tanah.

Saat hujan turun deras, air yang seharusnya meresap kedalam tanah justru mengalir kepermukaan dan akhirnya menggenang dijalan atau pemukiman.

Kondisi ini biasanya menjadi parah dengan adanya penebangan pohon secara besar-besaran, yang menyebabkan berkurangnya pohon sebagai penyerap air hujan.

Selain itu, sistem drainase yang kurang baik juga menjadi penyebab banjir.

Jika saluran air tersumbat oleh sampah, lumpur, atau material lain, maka air tidak dapat mengalir lancar dan akan tergenang, seperti yang terjadi di beberapa daerah di Bali.

Penumpukan sampah disaluran air menjadi masalah serius yang harus segera ditangani untuk mencegah banjir tak hanya datang sekali namun berulang.

Dilansir dari Gramedia Blog, beberapa kota besar di Indonesia seperti, Jakarta, Surabaya, atau Bandung, bencana banjir telah menjadi suatu agenda tahunan saat musim hujan tiba melihat dari letak geografisnya rumah kerumah yang berdekatan.

Berbeda dengan pedesaan ketika terkena banjir umumnya dapat terjadi dikarenakan adanya pengundulan hhutan, sehingga jumlah debit air sungai meluap dan akhirnya kemungkinan terjadi peristiwa banjir.

Berikut beberapa penyebab banjir:

Penyebab banjir jika dilihat dari topografi adalah wilayah yang sesuai dengan prinsip dari air yaitu akan selalu mengalir pada tempat-tempat yang lebih rendah.

Bencana akan datang pada umumnya terjadi pada daerah hilir kawasan dari daerah aliran sungai, dikarenakan daerah hilir pasti memiliki ketinggian yang lebih rendah dibandingkan dengan daerah di hulu.

 Baca Juga: Banjir Terjang Bali: Dua Warga Jembrana Tewas Terseret Arus

Hujan yang berlangsung tinggi dalam periode hyang lama akan meningkatkan kemungkinan terjadi banjir, ketinggian curah hujan ini juga bisa dipengaruhi oleh fenomena El Nino.

Sebagai wanti wanti, kita dapat melihat dari prediksi cuaca dari handphone.

 

Area resapan air kecil atau sedikit, hal ini biasanya menyebabkan banjir pada daerah perkotaan yang padat penduduk.

Area resapan air seperti hutan, kota atau ruang hijau terbuka sangat dibutuhkan diarea pemukiman warga ataupun di kota yang padat penduduk. Hal ini dikarenakan resapan air dapat mencegah terjadinya banjir.

 

Angin yang kuat dan angin yang besar daoat membawa air laut ke daratan pantai yang kering dan dapat mengakibatkan banjir.

Apabila angin tersebut disertai hujan dapat membuat kondisi lebih buruk.

Selain itu, dalam situasi tertentu air laut yang terdorong oleh tsunami dapat mengalir ke area daratan dan akhirnya menyebabkan kerusakan karena gelombang air yang besar.

 Baca Juga: Ilusi atau Gaib? Begini Membedakan Penampakan Asli dan Rekayasa

Dalam pengelolaan daerah aliran sungai dan perencanaan tata kota dapat menjadi penyebab terjadinya bencana banjir.

Pemerintah perlu mengatur dan menegakkan peraturan yang melarang segala hal yang dapat memberikan dampak negatif terhadap lingkungan dan meningkatkan resiko banjir.

Pembangunan yang tidak terencana demikian juga kerap menjadi faktor penyebab, banyak area yang dulunya merupakan daerah resapan air kini berubah menjadi bangunan atau jalanan teraspal, sehingga mengurangi ruang bagi air untuk mengalir dan meresap ke tanah.

Banjir di Bali bisa dijadikan contoh pentingnya menjaga lingkungan dan infrastruktur agar tetap sehat dan berfungsi.

Dengan menjaga area resapan air, rutin membersihkan saluran drainase dari sampah, serta menerapkan pembangunan yang ramah lingkungan, risiko banjir bisa dikurangi.

‎Intinya, banjir bukan hanya soal hujan lebat, tapi juga bagaimana kita mengelola lingkungan dan infrastruktur agar mampu menampung dan mengalirkan air dengan baik.

Bali mengingatkan kita semua bahwa pencegahan banjir adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah tapi juga masyarakat.

Penulis: Risco Agustin Megananda

Editor : Dwi Siswanto
#bali banjir #hujan panjang #banjir bandang #hujan #banjir