Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Fenomena Job Hugging: Tren Baru Pekerja di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Sidkin • Minggu, 21 September 2025 | 12:25 WIB
(Foto: Pinterest)
(Foto: Pinterest)

HALO JEMBER - Fenomena Job Hugging kini muncul dikalangan Milenial hingga Gen Z. Job Hugging artinya memeluk atau tidak melepaskan pekerjaan yang saat ini diemban.

Sebelum job hugging viral, sempat ada tren yang berkebalikan dari fenomena ini, yaitu job hopping pada tahun 2020-2021.

Dikutip dari Economic Times, job hopping adalah kegiatan berpindah-pindah tempat kerja untuk mengejar karier yang lebih baik. Tren ini populer di tahun 2021-2022, dan pekerja yang melakukannya sering kali disebut "kutu loncat".

Fenomena "job Hugging" adalah tren di kalangan pekerja yang memilih untuk bertahan atau "memeluk" pekerjaan mereka saat ini bukan karena merasa puas atau berkembang, tetapi lebih karena takut atau khawatir menghadapi iklim ekonomi dan pasar kerja yang tidak stabil.

Dilansir dari cnbc. com, Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan tingkat pengunduran diri sukarela (quits rate) sejak awal 2025 stabil di kisaran 2%. Angka ini merupakan level terendah sejak 2016, di luar masa awal pandemi Covid-19.

Survei ZipRecruiter juga mencatat, pekerja yang sama sekali tidak yakin akan ketersediaan lowongan kerja meningkat menjadi 38% pada kuartal-II (Q2) 2025. Angka ini naik dari 26% tiga tahun lalu.

"Pasar tenaga kerja saat ini stagnan, baik dari sisi perekrutan, PHK, maupun pengunduran diri," ujar Direktur Riset Ekonomi di Indeed Hiring Lab, Laura Ullrich dikutip CNBC International, Selasa (16/9/2025).

Keputusan untuk bertahan di posisi saat ini, meskipun menghadapi berbagai tekanan, seringkali menjadi pilihan terakhir, meskipun peluang pengembangan karier yang lebih baik tersedia di tempat lain..

Faktor utama yang mendorong fenomena ini meliputi rasa aman yang didorong oleh budaya, kekhawatiran akan ketidakstabilan ekonomi, dan keengganan menghadapi risiko perubahan pekerjaan.

Fenomena ini sangat terlihat setelah masa "Pengunduran Diri Hebat" di mana sebelumnya banyak pekerja yang pindah-pindah demi mendapat gaji yang lebih besar dan manfaat lebih banyak.

Namun, setelah kondisi ekonomi tidak stabil banyak yang memilih untuk bertahan di tempat pekerjaan yang ada sebagai upaya untuk bertahan hidup.

Baca Juga: Mengungkap Khasiat Binahong, Daun Hijau yang Baik untuk Kulit Sehat

Meski terlihat aman, job hugging punya sisi kurang baik. Pekerja yang terlalu lama bertahan berpotensi mengalami stagnasi karier dan kehilangan peluang kenaikan gaji karena sejarah menunjukkan karyawan yang pindah kerja biasanya mendapat kenaikan upah lebih besar.

Menurut pengamat dari Centre of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, ketidakpastian di sektor digital dan startup yang dulunya booming kini membuat banyak pekerja beralih mencari pekerjaan yang lebih aman seperti PNS dan karyawan BUMN.

Selain itu, ketakutan disebut "kutu loncat" juga memperkuat fenomena ini.

Secara singkatnya, job pelukan adalah perilaku karyawan yang tetap melekat pada pekerjaan lama lebih karena rasa takut terhadap risiko dan dilihat di luar pekerjaan tersebut daripada semata-mata karena kepuasan kerja atau perkembangan karier.

Penulis : Nafila Aprillia

 

Editor : Sidkin
#kerja #job hugging #tren baru #karyawan