Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

"Magrib: Antara Transisi Alam, Hening Jiwa, dan Pantulan Budaya Nusantara"

Dwi Siswanto • Kamis, 23 Oktober 2025 | 21:15 WIB

 

Film horor waktu magrib 2
Film horor waktu magrib 2

Halo Jember,—Setiap kali langit berubah jingga dan adzan magrib berkumandang, banyak masyarakat Indonesia yang serempak berhenti sejenak dari aktivitasnya.

Entah di kota besar atau di pelosok desa, momen magrib selalu punya nuansa yang khas seolah alam dan manusia sama-sama menundukkan diri.

Namun, di balik keindahan waktu magrib, ternyata tersimpan lapisan makna yang lebih dalam: pertemuan antara transisi alam, spiritualitas, dan budaya lokal.

Alam yang Beristirahat, Jiwa yang Menyatu, Secara ilmiah, waktu magrib adalah masa peralihan dari siang ke malam di mana cahaya matahari melemah dan udara mulai menyejuk.

alBaca Juga: Jenis-Jenis Bulu Perindu: Misteri Pengasihan dari Alam yang Kerap Dipakai Cara Pemikat Hati

Menurut ahli psikologi sosial, masa transisi ini secara tidak langsung memengaruhi suasana hati manusia.

Pantulan Nilai Spiritual, Dalam tradisi Islam, magrib bukan sekadar waktu salat.

Ia juga dianggap pintu masuk menuju malam, saat manusia diajak merenung dan mengembalikan diri pada Sang Pencipta setelah seharian bekerja.

Banyak keluarga di Indonesia yang sejak dulu menanamkan kebiasaan untuk tidak keluar rumah saat magrib, bukan hanya karena mitos, tetapi karena diyakini sebagai waktu keluarga berkumpul dan berdoa.

Jejak Budaya dan Kearifan Lokal Menariknya, berbagai daerah di Nusantara punya versi lokal tentang waktu magrib.

Di Jawa, anak-anak dulu diingatkan, “Aja dolan nalika surup, mengko digondol lelembut” (Jangan main saat matahari terbenam, nanti dibawa makhluk halus).
Sedangkan di Bugis dan Bali, masyarakat mengenal larangan serupa namun intinya sama: menghormati peralihan alam dan menjaga ketertiban batin.

Magrib di Era Modern Kini, di tengah bisingnya notifikasi ponsel dan lampu-lampu kota yang tak pernah padam, magrib sering lewat tanpa makna.

Padahal, jika mau berhenti sejenak, waktu senja bisa menjadi ruang hening untuk menenangkan diri dan menyadari ritme alam yang tetap berjalan.

Mungkin, di tengah kesibukan dunia modern, kita masih butuh waktu magrib bukan karena takut pada makhluk halus, tapi karena di sanalah manusia belajar berhenti, bersyukur, dan kembali pada dirinya sendiri.

Pewarta: Ferdi Harahap

Editor : Dwi Siswanto
#budaya #langit #nilai spiritual #kearifan lokal #magrib #psikolog