Halo Jember — Fenomena sate gagak bukan hal asing dalam kisah-kisah mistis di tanah Jawa. Dalam kepercayaan tradisional, gagak dianggap simbol makhluk penjaga dunia gaib, bahkan dipercaya bisa menjadi perantara antara manusia dan alam arwah.
Namun, dari sisi agama Islam, praktik ini justru termasuk larangan syariat karena mengandung unsur takhayul dan penyimpangan akidah.
Menurut ajaran Islam, setiap bentuk ritual yang berbau pengorbanan kepada selain Allah apalagi melibatkan hewan yang diharamkan tergolong perbuatan syirik.
Meski masyarakat kadang menganggapnya sebagai tradisi turun-temurun, Islam menegaskan pentingnya menjaga kemurnian tauhid.
Dalam kitab Shahih Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
“Rasulullah melarang memakan setiap binatang buas yang bertaring dan setiap burung yang bercakar.”
(HR. Muslim no. 1934)
Burung gagak jelas termasuk jenis burung bercakar dan pemakan bangkai, sehingga hukumnya haram untuk dikonsumsi.
Habib Luthfi bin Yahya pernah menyinggung secara umum dalam salah satu tausiyahnya, bahwa hewan-hewan yang menjadi simbol kesialan atau media klenik biasanya dipilih oleh setan untuk menyesatkan manusia lewat rasa penasaran dan keyakinan palsu.
Artinya, kepercayaan terhadap kekuatan mistis daging gagak bukanlah bagian dari ilmu hikmah Islam, melainkan bentuk penyimpangan yang harus dihindari.
Dalam pandangan aqidah Islam, segala bentuk ritual yang menggunakan media makhluk (baik burung, dupa, maupun sesajen) dengan keyakinan bisa mendatangkan kekuatan gaib termasuk bentuk syirik kecil (syirk ashghar) jika meyakini sebagai sebab tanpa izin Allah, dan syirik besar (syirk akbar) jika diyakini bahwa kekuatan itu berasal dari selain Allah.
Larangan terhadap praktik seperti sate gagak bukan sekadar soal halal-haram, tapi juga hikmah spiritual.
Islam mengajarkan bahwa segala kekuatan hanya berasal dari Allah SWT, bukan dari benda, makanan, atau hewan apa pun.
Di sisi lain, Islam justru menganjurkan doa, dzikir, dan shalawat sebagai jalan untuk mendekatkan diri pada Allah dan mendapatkan perlindungan dari gangguan makhluk halus.
Kepercayaan terhadap sate gagak boleh jadi tumbuh dari rasa takut, kagum, atau penasaran terhadap dunia gaib.
Namun Islam menegaskan bahwa mistik sejati adalah kekuatan spiritual yang lahir dari iman, bukan dari klenik.
Jadi, daripada mencari kesaktian lewat sate gagak yang haram dan berisiko, lebih baik memperkuat diri dengan ilmu, doa, dan dzikir karena itu sumber kekuatan hakiki yang diridai Allah SWT.
Pewarta: Ferdi Harahap