Halo Jember — Dalam khazanah budaya Jawa, istilah lintrik mungkin terdengar asing bagi sebagian orang.
Namun bagi masyarakat pesisir utara seperti Indramayu dan Cirebon, lintrik dikenal sebagai ilmu pengasihan yang dipercaya mampu memikat hati seseorang.
Tradisi ini telah hidup turun-temurun sejak masa kerajaan dan menjadi bagian dari praktik spiritual masyarakat Jawa kuno.
Menurut catatan budayawan Indramayu, H. Dedi Kusmana, ilmu lintrik diyakini lahir dari perpaduan antara kejawen dan kepercayaan lokal Sunda, sebelum masuknya Islam ke tanah Jawa.
“Lintrik itu bagian dari upaya manusia memahami energi cinta. Dulu bukan untuk sihir, tapi sebagai bentuk doa atau laku batin agar disayangi orang lain,” ujar Dedi saat diwawancarai Radar Indramayu(2024).
Ritual lintrik di masa lampau kerap menggunakan media alami seperti bunga mawar, minyak wangi, atau air dari tujuh sumber mata air.
Namun di beberapa daerah, terutama setelah pengaruh kolonial masuk, muncul varian unik seperti lintrik kartu remi, yang berkembang di pesisir Indramayu.
Konon, setiap simbol pada kartu remi dipandang memiliki makna spiritual hati melambangkan kasih, wajik melambangkan rezeki, sedangkan sekop dan keriting dianggap mewakili kekuatan dan daya tarik.
Meski banyak yang mengaitkan lintrik dengan ilmu hitam, beberapa ahli menyebut bahwa praktik aslinya lebih dekat dengan doa dan sugesti diri.
Kini, sebagian masyarakat masih melestarikan ritual lintrik, meski dalam bentuk yang lebih simbolik.
Di sisi lain, para tokoh agama terus mengingatkan agar tidak menyimpang dari ajaran tauhid dan menjauhi praktik yang melibatkan makhluk halus.
Di tengah arus modernisasi, kisah lintrik tetap menjadi jejak budaya mistik Jawa yang menarik untuk diteliti, bukan semata-mata untuk dipraktikkan, tapi untuk dipahami sebagai bagian dari identitas spiritual Nusantara.
Pewarta: Ferdi Harahap