Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Suwar Suwir

Rahasia Golongan Darah A: Mengapa Jadi Karyawan Paling Dicari di Jepang? 

Sidkin • Selasa, 11 November 2025 | 02:30 WIB
Ilustrasi golongan darah. Ini Rahasia Golongan Darah A: Mengapa Jadi Karyawan Paling Dicari di Jepang?
Ilustrasi golongan darah. Ini Rahasia Golongan Darah A: Mengapa Jadi Karyawan Paling Dicari di Jepang?

 

 

JEMBER, Halojember.jawapos.com – Di Jepang, pertanyaan tentang golongan darah terdengar sederhana, tetapi di baliknya tersembunyi keyakinan sosial yang sudah berakar puluhan tahun.

Dalam wawancara kerja, pertanyaan itu sering muncul bukan untuk urusan kesehatan, melainkan untuk menilai kepribadian calon karyawan.

Dan dari empat tipe yang ada, golongan darah A kerap menjadi primadona.

Dalam budaya kerja Jepang yang dikenal disiplin dan perfeksionis, tipe A dianggap paling selaras dengan etos masyarakatnya: rapi, bertanggung jawab, dan minim konflik.

Bagi sebagian perusahaan, karyawan dengan golongan darah A dinilai memiliki watak yang tenang, stabil, dan bisa diandalkan tanpa banyak bicara.

Kepercayaan ini bukan sekadar mitos kantor, melainkan bagian dari tradisi budaya yang panjang dan penuh cerita.

Sebelum istilah ketsueki-gata dikenal luas, gagasan tentang hubungan darah dan karakter sudah lama beredar di Jepang.

Pada 1930-an, profesor Tokeji Furukawa menerbitkan penelitian yang menyatakan bahwa golongan darah berhubungan dengan temperamen seseorang.

Ia menggambarkan tipe A sebagai pribadi teliti, penuh pertimbangan, dan fokus pada detail.

Tipe B diasosiasikan dengan spontanitas dan jiwa bebas.

Tipe O digambarkan sebagai sosok pemimpin alami.

Sementara AB dianggap memiliki kepribadian yang rumit dan tidak mudah ditebak.

Walau penelitian Furukawa dianggap lemah secara ilmiah karena bersandar pada survei subjektif, idenya tidak pernah benar-benar hilang.

Justru sebaliknya, konsep itu kembali populer pada tahun 1970-an berkat buku-buku karya Masahiko Nomi.

Buku-bukunya meledak di pasaran hingga terjual jutaan eksemplar di seluruh Jepang.

Televisi mulai menayangkan ramalan kecocokan berdasarkan golongan darah, berdampingan dengan zodiak.

Biro jodoh pun ikut-ikutan menjadikan golongan darah sebagai salah satu kriteria memilih pasangan.

Dari situ, citra “tipe A yang ideal” semakin tertanam kuat, tidak hanya dalam pekerjaan, tetapi juga dalam urusan hati.

Pada masa Perang Dunia II, pemerintah Jepang bahkan memanfaatkan teori golongan darah untuk menyusun kelompok tempur.

Tentara Kekaisaran dilatih berdasarkan tipe darah, dengan harapan setiap kelompok memiliki kombinasi karakter yang dianggap saling melengkapi.

Setelah perang usai, kepercayaan ini bergerak ke ranah sipil dan melekat pada dunia kerja.

Pada 1990, surat kabar Asahi Daily melaporkan bahwa Mitsubishi Electronics pernah membentuk tim beranggotakan orang-orang bergolongan darah AB karena dianggap ahli dalam membuat rencana.

Namun dalam banyak kasus, justru tipe A-lah yang terus diperlakukan sebagai standar “karyawan ideal”.

Di balik popularitasnya, kepercayaan ini juga melahirkan sisi gelap.

Istilah bura-hara atau blood harassment muncul untuk menggambarkan diskriminasi terhadap seseorang hanya karena golongan darahnya dianggap tidak cocok.

Ironisnya, meski sains telah membantah hubungan kepribadian dan golongan darah, kepercayaan ini tetap bertahan dalam budaya Jepang.

Teori ketsueki-gata kini dikategorikan sebagai pseudosains—tampak ilmiah, tetapi tidak punya bukti kuat.

Meski demikian, banyak orang Jepang masih memandangnya sebagai bagian dari tradisi yang menghibur, bukan sesuatu yang berbahaya.

 

Penulis: Tazyinatul Ilmiah

Editor : Sidkin
#dunia kerja #jepang #karyawan yang produktif dan efektif #ketsuekigata #golongan darah #golongan darah a #perusahaan